Usai Anjlok 3%, Harga Minyak Naik ke US$78,11
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa (23/6/2026) pagi setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 10.15 WIB, kontrak Brent berada di US$78,11 per barel, naik 0,27% dibandingkan penutupan Senin di US$77,90 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,45% ke US$74,16 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar melakukan penyesuaian posisi usai anjlok lebih dari 3% pada perdagangan Senin. Pelemahan sebelumnya dipicu meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah menyusul perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Washington dilaporkan memberikan keringanan sanksi selama 60 hari setelah pembicaraan damai awal berlangsung, sementara ketegangan di Lebanon ikut mereda di bawah kesepakatan yang lebih luas.
Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati karena implementasi kesepakatan tersebut belum sepenuhnya teruji. Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran akan menyetujui inspeksi senjata untuk memastikan kepatuhan terhadap komitmen nuklir. Trump juga menegaskan akan mengambil tindakan apabila Iran tidak memenuhi kesepakatan yang telah dicapai.
Fokus utama pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Pekan lalu, ancaman penutupan selat tersebut sempat memicu lonjakan premi risiko di pasar minyak. Namun data pelacakan kapal memperlihatkan aktivitas mulai pulih. Dua kapal tanker yang membawa hampir 2 juta barel minyak tercatat melintasi Selat Hormuz pada Senin, memberi sinyal bahwa arus pengiriman perlahan kembali normal setelah sempat melemah sehari sebelumnya.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai pasar masih menyimpan keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan Washington-Teheran. Menurutnya, tingkat kepercayaan yang rendah antara kedua negara membuat harga minyak sulit kembali ke level sebelum konflik dalam waktu singkat. Investor masih menunggu bukti nyata bahwa kesepakatan dapat bertahan dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar pulih.
Dari sisi fundamental, Departemen Energi AS melaporkan cadangan minyak di Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun menjadi 331,2 juta barel pada pekan lalu. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak Juni 1983. Penurunan stok strategis terjadi ketika pasokan energi global masih menyesuaikan dampak konflik AS-Iran yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]