MARKET DATA

BI Rate Naik, Purbaya Ungkap Cara Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6% di 2026

Robertus Adrianto,  CNBC Indonesia
22 June 2026 16:19
Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR)
Foto: Dasco Kumpulkan Menkeu Sampai Bos BI Bahas Nasib Rupiah. (Dokumentasi Tim Media Pimpinan DPR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Suku bunga acuan Bank Indonesia yang terus naik pada bulan ini, hingga ke level 5,75% tidak membuat pemerintah pesimistis mampu mengejar pertumbuhan ekonomi mendekati level 6% yoy pada 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, untuk memastikan laju pertumbuhan cepat itu tercapai saat BI agresif menaikkan BI Rate, pemerintah akan menjaga peredaran likuiditas di sistem perekonomian mencukupi untuk sektor bisnis tetap ekspansif.

"Kita di pemerintah memastikan uang ada di perekonomian, sehingga bisnis tetap bisa berjalan," kata Purbaya saat rapat kerja dengan Komite IV DPD, Jakarta, Senin (22/6/2026).

Selain itu, Purbaya juga memanfaatkan badan layanan umum yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Keuangan, yakni Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk menggelontorkan pembiayaan ke usaha mikro hingga kecil degan tenor panjang dan bunga rendah.

"Kalau seperti untuk Yogyakarta ada tuh untuk yang terkena Covid, ada tuh usaha kecil datang ke saya minta bantuan, saya sudah minta PIP buat program supaya mereka bisa cicil jangka panjang," ujar Purbaya.

"Dari PIP langsung dengan bunga yang rendah harusnya enggak masalah. Saya janji sudah keluar ya? PT PNM sama PIP ya, bunga berapa? enggak ada ya?" tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia sudah mengerek suku bunga secara agresif saat ini untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengelola tekanan inflasi.

Sejak 18 Mei 2026 hingga saat ini dewan gubernur BI telah meningkatkan suku bunga acuan sebesar 100 bps dari level 4,75% ke level 5.75%.

Berdasarkan catatan tim riset CNBC Indonesia, secara historis siklus pengetatan kebijakan moneter yang agresif dari Bank Indonesia pada periode 2022 hingga 2023 memperlihatkan efek tekan yang signifikan terhadap dinamika penyaluran kredit, khususnya sektor properti.

Ketika suku bunga acuan ditahan pada level 6% pada akhir tahun 2023, laju pertumbuhan kredit KPR dan KPA masih mampu mencatatkan angka ekspansi sebesar 12,1% (yoy) dengan total nilai mencapai Rp692,2 triliun.

Kinerja ini pada akhirnya menopang total kredit properti secara keseluruhan yang masih tumbuh positif sebesar 7,6% (yoy) menjadi Rp1.303,7 triliun pada periode Desember 2023.

Namun, akumulasi beban suku bunga tinggi tersebut pada akhirnya mulai menggerus daya beli riil masyarakat pada periode berikutnya.

Memasuki akhir tahun 2024, transmisi beban suku bunga kredit mengambang mulai menekan ketahanan finansial konsumen perbankan. Pertumbuhan total penyaluran kredit properti secara agregat mengalami deselerasi menjadi 6,5% (yoy) dengan nilai Rp1.412,3 triliun pada Desember 2024.

Perlambatan ini sejalan dengan tren penurunan pada pertumbuhan kredit ritel KPR dan KPA yang merosot menjadi 10,0% (yoy). Pada saat yang sama, aktivitas kredit konstruksi nyaris stagnan dengan mencatatkan angka pertumbuhan hanya sebesar 0,01% (yoy) senilai Rp393,1 triliun.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Menguat Pagi Ini, Naik 0,6%


Most Popular
Features