Analis Sebut Rapor MSCI RI Unggul Dibanding India, Korea & Taiwan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia dinilai masih memiliki tingkat aksesibilitas yang lebih baik dibandingkan India, Korea, Filipina, Taiwan dan Thailand, berdasarkan MSCI Accessibility Review 2026
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee mengatakan, posisi Indonesia masih tergolong kuat jika dilihat dari penilaian 18 kriteria yang digunakan MSCI. Dalam penilaian terbaru, Indonesia memperoleh 10 kriteria bernilai "++", enam kriteria bernilai "+", dan hanya dua kriteria bernilai "-".
Menurutnya, capaian tersebut menempatkan Indonesia di bawah Hong Kong dan Malaysia, namun masih lebih unggul dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya.
"Indonesia lebih unggul dari India, Korea, Pilipina, Taiwan dan Thailand. Bila dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik ke EM Indonesia jauh lebih unggul, dimana Vietnam hanya punya 6 kriteria bernilai "++", 4 kriteria "+" dan 8 kriteria "-"," ungkap Hans Kwee tertulis, Senin, (22/6/2026).
Hans menuturkan hampir seluruh indikator Indonesia dalam MSCI Accessibility Review 2026 tetap bertahan dibandingkan tahun sebelumnya. Satu-satunya perubahan terjadi pada aspek Information Flow yang turun dari nilai "+" menjadi "-".
Meski demikian, ia menilai penurunan pada aspek Information Flow tersebut telah mendapat respons dari regulator dan pelaku infrastruktur pasar melalui agenda reformasi pasar modal yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO). Karena itu, ia memperkirakan indikator tersebut berpeluang kembali membaik pada penilaian berikutnya.
Lebih jauh, Hans menyoroti capaian Indonesia pada indikator Foreign Ownership Limits dan Foreign Room yang memperoleh nilai "++". Penilaian tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan Hong Kong dan India yang hanya memperoleh nilai "-".
Ia menjelaskan MSCI menentukan klasifikasi pasar berdasarkan tiga faktor utama, yakni tingkat perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas pasar. Saat ini Indonesia memiliki 11 saham yang memenuhi persyaratan ukuran dan likuiditas MSCI, jauh di atas ambang minimum satu saham yang dipersyaratkan untuk mempertahankan status Emerging Market.
"Melihat hal ini Indonesia tidak mungkin turun ke Frontier Market pada MSCI Market Classification Review 23 Juni," tuturnya.
Ia juga menilai peluang Indonesia turun ke kategori Frontier Market sangat kecil. Skenario yang paling mungkin terjadi adalah Indonesia tetap berada di kelompok Emerging Market disertai pencabutan status interim freeze yang saat ini masih berlaku.
Ia menambahkan dampak utama dari interim freeze saat ini adalah tertundanya peluang sejumlah saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI. Jika status tersebut belum dicabut, potensi penambahan saham Indonesia ke indeks MSCI kemungkinan baru akan terealisasi setelah proses review berikutnya.
Sejalan, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengatakan, hal ini sesuai dengan perkiraan para pelaku pasar. Menurutnya, tidak ada alasan untuk Indonesia diturunkan klasifikasi dari status negara berkembang
"Dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik, meskipun risiko mengalami kenaikkan, kami yakin Indonesia masih layak untuk berada disana," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (19/6/2026).
Sebelumnya, PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai laporan tersebut masih mempertahankan banyak aspek positif pasar modal Indonesia, meskipun terdapat sejumlah catatan yang memerlukan perbaikan.
"Tentu kita mengapresiasi apa yang sudah disampaikan, dan itu juga sudah menjadi bagian dari diskusi kita selama ini. Jadi tentu perbaikan-perbaikan akan terus kita lakukan. Yang pasti, satu hal adalah ke depan kita yakini akan menjadi lebih baik," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta
Terkait kekhawatiran Indonesia berpotensi turun dari kategori emerging market menjadi frontier market dalam pengumuman MSCI berikutnya pada 23 Juni 2026, Jeffrey menyatakan pihaknya optimistis Indonesia akan tetap berada di kelompok emerging market.
"Kalau kita melihat apa yang disampaikan hari ini, tentu besar harapan kita bahwa Indonesia akan tetap ada di emerging market," tegas Jeffrey.
Lebih lanjut, BEI akan kembali melakukan komunikasi dan pertemuan rutin dengan MSCI untuk mengklarifikasi sejumlah poin yang masih menjadi perhatian. Salah satu isu yang akan dibahas adalah terkait ketersediaan informasi dalam bahasa Inggris yang disebutkan dalam laporan MSCI.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]