MARKET DATA

Tak Mau Terima Warisan Rp89 Triliun, Anak Crazy Rich Pilih Jadi Biksu

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
20 June 2026 21:45
Ven Ajahn Siripanyo. (Tangkapan Layar Youtube)
Foto: Ven Ajahn Siripanyo. (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tidak semua anak miliarder memilih meneruskan bisnis keluarga atau menikmati limpahan harta warisan. Hal itu tercermin dari perjalanan hidup Yang Mulia Ven Ajahn Siripanyo.

Putra tunggal konglomerat Malaysia Ananda Krishnan ini justru memilih meninggalkan kemewahan dan menjalani hidup sebagai biksu Buddha. Keputusan tersebut diambil Siripanyo saat berusia 18 tahun. Meski berasal dari keluarga superkaya, pilihannya mendapat penghormatan penuh dari keluarganya.

"Pilihan Ajahn Siripanyo sepenuhnya adalah pilihannya sendiri, dan itu dihormati dalam keluarga," tulis laporan yang dikutip dari South China Morning Post (SCMP) melalui Economic Times.

Ananda Krishnan sendiri dikenal sebagai salah satu miliarder terbesar di Malaysia. Pendiri kerajaan bisnis yang bergerak di sektor telekomunikasi, satelit, minyak, properti, hingga media itu memiliki kekayaan sekitar US$ 5 miliar atau setara Rp89 triliun.

Tak hanya berasal dari keluarga konglomerat, Siripanyo juga memiliki darah bangsawan Thailand dari sang ibu, Momwajarongse Suprinda Chakraban, yang merupakan keturunan keluarga kerajaan Thailand. Latar belakang tersebut membuatnya tumbuh dengan akses terhadap kehidupan mewah dan lingkungan elite.

Namun, alih-alih mengikuti jejak bisnis sang ayah, Siripanyo memilih menempuh jalan spiritual. Awalnya ia mengikuti retret keagamaan di Thailand untuk sementara waktu. Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi komitmen seumur hidup sebagai biksu.

Selama lebih dari dua dekade, Siripanyo menjalani kehidupan sebagai biksu hutan dan bermukim di Biara Dtao Dum yang berada di dekat perbatasan Thailand dan Myanmar. Dalam kesehariannya, ia menjalankan ajaran Buddha yang menekankan kesederhanaan, meninggalkan materialisme, dan hidup dari kemurahan hati masyarakat.

Laporan tersebut juga menyebut Siripanyo menghabiskan masa kecilnya di London bersama kedua saudara perempuannya. Ia menempuh pendidikan di Inggris dan menguasai sedikitnya delapan bahasa. Pengalaman hidup lintas budaya itu disebut turut membentuk cara pandangnya terhadap dunia sekaligus memperdalam pemahamannya mengenai ajaran Buddha.

Meski memilih kehidupan monastik, Siripanyo tetap menjaga hubungan dengan keluarganya. Ia sesekali mengunjungi sang ayah dan kembali berinteraksi dengan kehidupan lamanya. Namun, hal tersebut tetap dilakukan sejalan dengan prinsip-prinsip Buddha yang menghargai ikatan keluarga.

Kisah hidup Siripanyo kerap dibandingkan dengan karakter Julian Mantle dalam novel 'The Monk Who Sold His Ferrari'. Bedanya, jika tokoh tersebut hanya fiksi, perjalanan Siripanyo menjadi contoh nyata yang langka tentang seseorang yang memilih pengabdian spiritual dibandingkan kekayaan dan kemewahan yang telah tersedia di depan mata.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Putra Orang Terkaya Pilih Jadi Biksu, Tinggalkan Harta Rp90 Triliun


Most Popular
Features