Bursa Asia Menguat, Nikkei Tembus Rekor Baru Gegara Sinyal The Fed
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Kamis (18/6/2026), meski pelaku pasar masih mencerna hasil rapat terbaru bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).
Melansir CNBC, penguatan pasar terjadi setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, namun memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi pada tahun ini.
Kontrak berjangka saham AS bergerak naik pada perdagangan Rabu malam waktu setempat. Futures S&P 500 menguat 0,2%, Nasdaq 100 naik 0,4%, sementara futures Dow Jones Industrial Average bertambah 73 poin atau sedikit di atas 0,1%.
Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 0,89% dan mencetak rekor tertinggi baru. Saham raksasa teknologi SK Hynix melesat 3,45% ke level tertinggi sepanjang masa, sementara Samsung Electronics naik 1,23%, meski indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,5%.
Pasar Jepang juga mencatatkan kinerja impresif dengan indeks Nikkei 225 naik 1,35% dan menembus level 71.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Indeks Topix turut menguat 1,27%, sedangkan indeks acuan Australia S&P/ASX 200 bergerak relatif datar.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 24.200. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 24.312,16 sehingga mengindikasikan potensi pelemahan saat pembukaan perdagangan.
Perhatian investor tertuju pada hasil rapat Federal Reserve yang dipimpin oleh Ketua The Fed baru, Kevin Warsh. Dalam pertemuan tersebut, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate di kisaran 3,5%-3,75%.
Meski tidak mengubah suku bunga, proyeksi terbaru para pejabat The Fed menunjukkan kecenderungan yang lebih hawkish. Melalui dot plot terbaru, sejumlah pejabat kini memperkirakan suku bunga akan lebih tinggi pada akhir 2026, dengan estimasi median naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada proyeksi Maret.
Proyeksi tersebut mengindikasikan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026. Namun, gambaran arah kebijakan menjadi lebih kompleks setelah Kevin Warsh memilih tidak menyampaikan proyeksi suku bunga pribadinya dalam pertemuan tersebut.
Reaksi pasar terhadap hasil rapat The Fed cenderung negatif pada perdagangan Rabu. Indeks Dow Jones yang sempat mencetak rekor intraday baru akhirnya ditutup turun 507,12 poin atau 0,98%, sementara S&P 500 melemah 1,21% dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,34%.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS melonjak setelah pengumuman kebijakan moneter. Yield Treasury tenor dua tahun bahkan sempat menyentuh level 4,22%, mencerminkan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi ke depan.
Chief Macro Strategist Carson Group, Sonu Varghese, menilai The Fed memang mempertahankan suku bunga, tetapi berhasil mengubah sentimen pasar melalui proyeksi yang lebih hawkish. Menurutnya, inflasi yang masih tinggi membuat sikap tersebut dapat dipahami, meskipun para pembuat kebijakan masih belum sepenuhnya sepakat mengenai arah kenaikan suku bunga berikutnya.
Ia juga menilai kebijakan moneter saat ini masih tergolong longgar untuk ekonomi yang inflasinya masih menjadi masalah, meski pasar tenaga kerja mulai menunjukkan stabilisasi. Di sisi lain, Chief Market Strategist Jefferies, David Zervos, mengatakan pasar umumnya tidak menyukai perubahan rezim atau pergantian kepemimpinan dalam kebijakan ekonomi.
Pada perdagangan Kamis, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS. Selain laporan laba perusahaan Accenture dan Kroger sebelum pembukaan pasar, pelaku pasar akan menunggu rilis indikator ekonomi utama Mei, indeks manufaktur Philadelphia Fed Juni, serta data klaim pengangguran mingguan yang berakhir pada 13 Juni.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]