MARKET DATA

Ada Sinyal Kabar Baik dari Iran, Begini Reaksi Pemerintah Indonesia

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
15 June 2026 20:35
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)
Foto: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons terkait sinyal positif dari negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pemerintah akan terus memonitor hal tersebut karena berpengaruh pada harga minyak dunia.

Menurutnya, kondisi ketidakpastian global akan berhenti jika kesepakatan telah ditandatangani oleh kedua negara tersebut.

"Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$83 per barel, tetapi kan semua ini baru selesai saat sudah ditandatangani," ungkapnya.

Airlangga menekankan, pemerintah akan terus memantau setiap perkembangan hingga kesepakatan resmi diumumkan.

"Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif. Tunggu sampai ditandatangani," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan tengah mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi di Swiss pada pekan ini. Pertemuan tersebut disebut menjadi bagian dari upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang berlangsung, membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, serta mencari titik temu terkait program nuklir Teheran.

Mengutip laporan media Prancis BFMTV yang mengacu pada sejumlah sumber yang dekat dengan proses negosiasi, pertemuan itu kemungkinan digelar pada Kamis atau Jumat mendatang setelah berakhirnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7.

Pembicaraan diperkirakan berlangsung di wilayah berbahasa Jerman di Swiss, meski hingga kini Washington maupun Teheran belum memberikan konfirmasi resmi.

Rencana pertemuan tersebut muncul di tengah negosiasi yang masih berlangsung antara kedua negara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei sebelumnya mengatakan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan AS belum akan ditandatangani dalam waktu dekat, namun berpotensi rampung dalam beberapa hari ke depan.

"Dokumen tersebut tidak akan ditandatangani pada hari Minggu, tetapi dapat diselesaikan dalam beberapa hari mendatang," kata Baghaei, seraya menegaskan bahwa jalur diplomatik antara kedua pihak masih tetap terbuka.

Meski demikian, hasil konkret dari kemungkinan pertemuan di Swiss itu masih belum pasti. Belum diketahui apakah kedua negara akan mencapai kesepakatan resmi atau sekadar melakukan kontak langsung untuk melanjutkan proses negosiasi yang sudah berjalan dalam beberapa waktu terakhir.

Harga minyak dunia ambruk pada awal perdagangan pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai yang membuka jalan bagi kembali normalnya lalu lintas energi di Selat Hormuz.

Sentimen tersebut langsung menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir menopang harga minyak di level tinggi.

Berdasarkan data Refinitiv hingga Senin (15/6/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak Brent berada di US$83,92 per barel, merosot 3,91% dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di US$87,33 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam, yakni 4,58%, ke posisi US$80,99 per barel dari sebelumnya US$84,88 per barel.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Bakal Kebanjiran Dana Asing dari Family Office, Ini Kata Airlangga


Most Popular
Features