MARKET DATA

BI Gandeng Bank Sentral China, Amankan Rupiah dari Hantaman Dolar

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
15 June 2026 06:55
Gubernur Perry Warjiyo dan Gubernur Pan Gongsheng menjalin kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan PBOC. di Shanghai, China, Rabu (11/6/2026). (Dok. Bank Indonesia)
Foto: Gubernur Perry Warjiyo dan Gubernur Pan Gongsheng menjalin kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan PBOC. di Shanghai, China, Rabu (11/6/2026). (Dok. Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBOC) telah melaksanakan pertemuan tingkat tinggi atau high level meeting (HLM) Joint Work Program, minggu lalu (11/6/2026)di Shanghai, Tiongkok.

Adapun pertemuan yang dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng ini menghasilkan enam poin penting.

Pertama, sinergi untuk memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas keuangan regional yang lebih luas. Kerja sama ini sekaligus mendukung upaya kedua bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Kedua, penjajakan untuk peningkatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) dan menegaskan kembali komitmen untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral serta memperkuat konektivitas pembayaran lintas batas antara Indonesia dan Tiongkok.

Ketiga, dalam pertemuan tersebut, Gubernur Pan Gongsheng menyampaikan bahwa Tiongkok dan Indonesia, sebagai ekonomi utama dan mitra strategis di kawasan, memiliki tanggung jawab bersama untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan keuangan bilateral.

Penguatan kerja sama ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap kemakmuran dan stabilitas kawasan, sekaligus mendukung ketahanan ekonomi kedua negara.

Keempat, Perry juga menekankan bahwa ke depan kerja sama keuangan akan memperkuat transaksi mata uang lokal antara Indonesia dan Tiongkok, mengembangkan infrastruktur keuangan, serta memperluas kerja sama antarbank sentral, termasuk pembentukan RMB Clearing Bank di Indonesia.

Kelima, kedua bank sentral menyepakati 4 hal menjadi key deliverables dalam pertemuan ini, yaitu:

a. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Local Currency Transaction (LCT) BI-PBOC-HKMA yang mencakup Indonesia dan Hong Kong. Kerja sama ini memperkuat kerangka LCT yang 1 telah ada untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, meningkatkan efisiensi transaksi, serta mendukung integrasi pasar keuangan regional yang lebih mendalam.

b. Penandatanganan MoU mengenai mengenai Pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia antara BI dan PBoC guna mendukung pengembangan ekosistem RMB domestik melalui penyediaan likuiditas Renminbi yang memadai untuk kegiatan perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan.

c. Peluncuran implementasi pembayaran QR lintas batas IndonesiaTiongkok. Didukung oleh kerangka LCT, inisiatif ini memungkinkan transaksi ritel lintas batas dilakukan dengan lebih mudah, cepat, efisien, inklusif, dan andal, sekaligus mendukung konektivitas ekonomi digital yang lebih erat antara kedua negara.

d. Launching kepesertaan Bank Mandiri sebagai direct participant dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS). Partisipasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi proses kliring dan penyelesaian transaksi Indonesia-Tiongkok, sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur pembayaran lintas batas.

Terakhir adalah komitmen BI dan PBOC dalam mendorong integrasi ekonomi dan keuangan melalui perluasan konektivitas sistem pembayaran serta pengembangan pasar keuangan yang lebih efisien, inklusif, dan tangguh akan semakin memperkuat stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem keuangan di kedua negara.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BI dan Bank of Korea Perpanjang Kesepekatan Buang Dolar Rp115 T


Most Popular
Features