MARKET DATA
CNBC Insight

Pembantu Ini Nekat Kuras Tabungan Untuk Beli Saham, Ini Nasibnya

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
14 June 2026 12:40
Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi SBN ritel. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah sejak lama banyak pihak yang tertarik untuk berinvestasi di pasar saham. Bahkan, seorang asisten rumah tangga (ART) pun dilaporkan pernah menguras tabungan gajinya untuk membeli saham perusahaan di bursa.

Perstiwa ini melibatkan ART bernama Neeltgen Cornelis. Investasinya dilakukan pada zaman Kongsi Dagang Hindia Belanda atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), tepatnya saat perusahaan itu menjual saham pertama kalinya pada publik pada tahun 1602 silam.

Ketertarikan Neeltgen berinvestasi di VOC berawal dari majikannya, Dirck van Os yang kebetulan Direktur VOC. Pada masa-masa Initial Public Offering (IPO), banyak orang keluar-masuk ke rumah van Os untuk urusan investasi.

Pada saat itu, perdagangan bursa efek tidak sama seperti sekarang. Semuanya serba manual dan dicatat menggunakan kertas. Alhasil, wajar apabila rumah Dirck van Os ramai para investor. Di tengah keramaian itulah, terpantik rasa penasaran Neeltgen.

Dari lubuk hati terdalam, Neeltgen sebenarnya ingin berinvestasi di VOC. Dia percaya VOC bakal memberi keuntungan besar. Namun, di sisi lain, dia juga kebingungan lantaran tidak punya uang cukup untuk membeli saham.

Sebagai pembantu, gajinya kurang dari lima puluh sen dalam sehari. Uang segitu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alhasil, dia maju-mundur untuk berinvestasi dari hari ke hari.

Hingga akhirnya, pada penghujung Agustus saat penawaran perdana saham bakal VOC ditutup, Neeltgen berubah pikiran.

"Dia berpikir akan selalu menyesal apabila dia tidak berinvestasi sekarang. Alhasil dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan uang tabungannya," tulis Petram.

Dari uang tabungan hasil kerja kerasnya jadi ART, Neeltgen sisihkan 100 gulden untuk membeli saham VOC. Dia pun menyerahkan uang tersebut kepada majikannya.

Nama Neeltgen Cornelis pun tercatat sebagai pemegang daftar saham VOC, meski sangat kecil dibanding yang lainnya. Saat itu, bos-bos VOC menaruh uang dalam jumlah besar. Ada yang mencapai 85.000 gulden, 65.000 hingga 45.000 gulden.

Lantas, apakah Neeltgen memperoleh keuntungan dari pembelian saham VOC?

Menurut Petram, Neeltgen sempat meraih keuntungan namun hanya sesaat, karena ia melepas kepemilikan saham VOC pada Oktober 1603 atau setahun setelah melakukan pembelian. Dia menjual seluruh sahamnya kepada Jacques de Pourcq.

Padahal, jika terus-menerus dipegang, uang 100 gulden tersebut bisa berubah menjadi ribuan gulden. Atau setidaknya, kata Petram, pemegang saham VOC bisa menerima rempah-rempah setiap saat sebagai bentuk dividen.

Perlu diketahui, VOC dalam beberapa tahun mendatang sejak IPO terbukti jadi perusahaan terbesar di dunia berkat sukses menjual dan menguasai rempah-rempah dari bumi Indonesia.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Anjlok 4,39%, Potret IHSG Merah di Sesi I


Most Popular
Features