IHSG Sesi I Melesat 2,68% ke Level 6.043
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,68% ke level 6.043,55 pada akhir perdagangan sesi pertama hari ini, Jumat (12/6/2026).
Sebanyak 610 saham naik, 101 saham melemah dan 100 saham stagnan. Frekuensi transaksi terjadi sebanyak 1,36 juta kali, dengan volume perdagangan mencapai 21,56 miliar lembar, senilai Rp 11,85 triliun.
IHSG sendiri dibuka menguat pada perdagangan Jumat (12/6/2026), kembali ke zona hijau setelah perdagangan sebelumnya mengalami koreksi.Â
Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat, dengan hanya sektor kesehatan yang melemah. Adapun penguatan tertinggi dibukukan oleh sektor barang baku, energi, infrastruktur dan industri.
Emiten blue chip cig caps serta emiten konglomerat kompak melesat pada perdagangan hari ini. BBCA, BRMS, AMMN, TLKM dan BUMI menjadi penggerak utama kinerja IHSG hari ini.
Adapun pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan sentimen geopolitik dan ekonomi global.
IHSG dan rupiah nampak mulai melemah seiring dengan rilis data inflasi AS yang kembali menanjak sehingga meningkatkan potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang memiliki kecenderungan melumpuhkan aset beresiko seperti saham terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran berpotensi menandatangani perjanjian damai pada akhir pekan ini yang akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran. Namun, Iran menegaskan belum mengambil keputusan final meski sebagian besar isi kesepakatan telah diselesaikan.
Trump mengklaim kesepakatan tersebut akan mengakhiri perang yang telah berlangsung tiga bulan dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut Selat Hormuz akan dibuka kembali segera setelah perjanjian ditandatangani.
Pernyataan Trump muncul setelah ia membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran karena adanya kemajuan dalam negosiasi. Kabar itu mendorong kenaikan saham AS dan penurunan harga minyak.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa kemarin secara resmi memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,4%. Langkah pengetatan ini merupakan kenaikan yang pertama kalinya sejak tahun 2023, yang didorong oleh komitmen para pembuat kebijakan untuk menjangkar inflasi agar kembali ke target jangka menengah sebesar 2%.
Keputusan ini merespons langsung lonjakan biaya energi dan risiko inflasi persisten akibat eskalasi perang di Timur Tengah serta gangguan jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Menyusul kebijakan tersebut, Bank Sentral Eropa merevisi naik proyeksi inflasi utama tahun 2026 menjadi 3,0% dari sebelumnya 2,6%, dan proyeksi 2027 menjadi 2,3%.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]