Benarkah Fundamental Ekonomi RI Kuat? Begini Kata Ekonom Senior
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengamat ekonomi buka suara soal kondisi pasar keuangan Indonesia yang masih terpuruk, meski pemerintah mengaku fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.
Ekonom senior Raden Pardede mengatakan adanya perbedaan kondisi antara fundamental ekonomi Indonesia dengan kondisi pasar keuangan terjadi karena adanya data lag atau jeda waktu, sehingga antara data ekonomi belum mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
"Jadi memang fundamental ekonomi kita terlihat kuat karena ada lag yang biasanya baru bisa rasakan 3-6 bulan atau maksimum 9 bulan. Jadi, apa yang kita lihat harga-harga yang sudah naik kemudian perlambatan dari kurs yang melemah, dampaknya itu tidak serta-merta langsung hari itu juga, tapi nanti," kata Raden dalam acara KONEKSI CNBC Indonesia, dikutip pada Jumat (12/6/2026).
Sehingga, menurutnya, kenaikan harga barang-barang yang sudah terjadi belakangan ini, baru akan terlihat dampaknya sekitar 3 hingga 6 bulan.
"Contohnya juga sekarang dinaikkan interest rate (BI Rate), suku bunga SRBI sudah naik. Itu berarti akan berpengaruh kepada investasi berikutnya, meskipun sekarang belum, dan yang lalu-lalu belum. Tapi dampaknya baru terasa nanti. Itu akan menggigit beberapa bulan kemudian," lanjutnya.
Contoh lain yakni tingkat inflasi, di mana data terbaru inflasi memang belum mengalami kenaikan signifikan. Tetapi dengan adanya kenaikan harga barang, berdampak ke inflasi periode berikutnya.
"Belum kelihatan indikator kepada inflasi secara signifikan. Tetapi ekspektasi dari pelaku pasar itu sudah bermain. Ini ke sana tuh nantinya," terang Raden.
Sebelumnya, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochamad Firman Hidayat mengklaim bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis 1998. Hal ini diungkapnya saat menyampaikan laporan kondisi fundamental ekonomi Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Kami dari Dewan Ekonomi Nasional memang menyampaikan kepada Bapak Presiden terkait dengan situasi ekonomi sekarang ya. Mungkin yang pertama yang kami sampaikan, kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang baik gitu ya," kata Firman.
"Bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Selain dari indikator-indikator makro seperti pertumbuhan yang masih tinggi, inflasi yang masih stabil, salah satu yang kami highlight adalah neraca korporasi yang dalam posisi yang sangat sehat," tegasnya.
Namun demikian, dia menilai pemerintah perlu mewaspadai adanya ketidakpastian ekonomi global.
(chd/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]