Bursa Asia Kompak Turun, Sentimen Perang & Harga Minyak Jadi Pemberat
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Melansir CNBC, sentimen tersebut turut menekan kontrak berjangka Wall Street dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan dengan penurunan lebih dari 2%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,71% dan indeks acuan Australia S&P/ASX 200 bergerak sedikit lebih rendah.
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat juga berada di zona merah pada Selasa malam waktu setempat. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,3%, sedangkan futures Dow Jones Industrial Average melemah 161 poin atau sekitar 0,3%.
Tekanan di pasar muncul setelah militer AS melancarkan apa yang disebut sebagai "serangan untuk membela diri" terhadap Iran. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS sehari sebelumnya.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan sebagai balasan atas insiden penembakan helikopter tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuduh Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter yang sedang berpatroli di Selat Hormuz.
Meski demikian, Iran belum mengakui secara langsung keterlibatannya dalam insiden tersebut. Perkembangan terbaru ini dinilai berpotensi mengganggu gencatan senjata yang masih rapuh antara kedua negara sekaligus menghambat upaya menuju kesepakatan damai.
Meningkatnya tensi geopolitik juga mendorong harga minyak dunia lebih tinggi. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terakhir tercatat naik sekitar 1% ke kisaran US$89 per barel.
Pada perdagangan reguler Selasa, saham-saham sektor semikonduktor kembali mengalami aksi jual yang menyeret indeks utama Wall Street. Indeks S&P 500 turun 0,26% dan Nasdaq Composite merosot 0,97%, sementara Dow Jones justru menguat 86,10 poin atau 0,17%.
Pelemahan tersebut melanjutkan koreksi yang telah berlangsung sejak pekan lalu setelah reli panjang yang didorong oleh optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Saham-saham chip dan memori yang sebelumnya menjadi motor penggerak utama pasar kini menghadapi aksi ambil untung dari investor.
Kepala Strategi Investasi Empower Investments, Marta Norton, menilai reli sektor semikonduktor dalam beberapa pekan terakhir telah berlangsung terlalu cepat. Menurutnya, kondisi tersebut membuat sentimen pasar terlihat terlalu tinggi sehingga memicu koreksi, meski belum tentu mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi.
Pelaku pasar kini juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat untuk Mei yang akan diumumkan Rabu pagi waktu setempat. Konsensus Dow Jones memperkirakan inflasi tahunan berdasarkan Consumer Price Index (CPI) mencapai 4,2% dengan kenaikan bulanan 0,5%, yang akan menjadi level tertinggi sejak April 2023 sekaligus pertama kalinya kembali menembus 4% sejak Mei tahun yang sama.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]