MARKET DATA

Mantan Menkeu SBY Beri Pesan ke Investor: Investasi di RI Bikin Nagih

Vina Bestari,  CNBC Indonesia
09 June 2026 17:15
Presiden Prabowo Subianto memanggil anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri di Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Presiden Prabowo Subianto memanggil anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri di Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom senior sekaligus mantan menteri keuangan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri tetap optimis dengan iklim investor tanah air. Bahkan dia menyebutnya membuat para investor ketagihan.

"Saya pernah jadi Kepala BKPM dan saya selalu bilang di tengah ketidakpastian mengenai ini, my advice to investors, saya selalu bilang: 'Investing in Indonesia is very dangerous because it is addictive'. Jadi karena sangat berbahaya, kenapa? Karena itu sangat addictive," kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026, di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Chatib meminta untuk tidak kapok berinvestasi di Indonesia. Meski situasi yang sedang tidak baik-baik saja, namun diharapkan bisa berubah dalam jangka panjang.

"Situasinya mungkin kurang baik, tapi mudah-mudahan di dalam medium, di dalam jangka panjang kita akan jadi lebih baik," ucapnya.

Indonesia memang tengah menghadapi tantangan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah terhadap dolar yang kini tembus Rp 18 ribu. Banyak pihak yang menyamakan kondisi ini dengan saat krisis ekonomi 1998 lalu.

Chatib sendiri mengatakan tidak ada kesamaan antara situas 1998 dengan 2026. Karena kedua periode itu memiliki perbedaan flexible exchange rate.

"Di kelompok yang atas, terutama menengah atas, itu sebetulnya depresiasi Rupiah sudah diantisipasi sejak lama. Mereka yang punya anak sekolah di luar negeri itu sudah taruh Rupiahnya di dalam Dolar. Dia sudah hedge. Company dia sudah hedge," jelas Chatib.

Hal berbeda terjadi saat 1998. Pada saat itu, masyarakat Indonesia tidak terbiasa dengan flexible exchange rate.

Jadi orang Indonesia tetap meminjam dalam bentuk dolar saat rupiah runtuh pada periode tersebut.

Dia juga mengatakan khawatir pada kelompok menengah bawah, bukan pada kelas menengah atas. Sebab mereka akan terdampak dari banyak bahan baku yang mengalami kenaikan tarif.

"Jadi sebetulnya yang perlu dijaga itu adalah bagaimana memberikan social protection kepada lower middle income untuk address isu ini," dia menuturkan.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Oki Ramadhana Jadi CEO INA, Ini Susunan Dewan Direktur Terbaru


Most Popular
Features