Banggar DPR: Semoga Dalam 3 Minggu Dolar AS Balik ke Rp17.500
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdulah mengaku bersyukur karena upaya pemerintah berhasil meredam pelemahan rupiah pada Selasa (9/6/2026) hari ini.
Said mengatakan, rupiah berhasil menguat dari sebelumnya di level Rp18.190/US$ pada perdagangan Senin kemarin, berhasil menguat ke Rp18.022/US$ hari ini.
"Alhamdulillah, hari ini rupiah kita mengalami apresiasi, dari kemarin di Rp18.190/US$, pada hari ini menguat ke Rp18.022/US$, ini berkat kerja keras pemerintah," kata Said Abdullah dalam sesi pembukaan rapat kerja (raker) bersama Menteri Keuangan (Menkeu), Gubernur Bank Indonesia (BI), dan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Selasa (9/6/2026).
Said pun berharap kepada pemerintah, agar rupiah bisa pulih kembali menuju level Rp17.500-an per US$ dalam tiga minggu ke depan, setelah upaya kebijakan fiskal dan moneter digenjot.
"Insyaallah semoga dengan kerja keras, bauran kebijakan fiskal dan moneter, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, kita berharap setidaknya minggu depan atau dua minggu lagi, atau tiga minggu lagi kita bangun optimisme yang realistis agar rupiah bisa pulih kembali setidaknya dalam tiga minggu bisa ke Rp17.500 per US$," jelasnya.
Sebelumnya hari ini, rupiah berhasil menguat tipis, setelah BI menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.
Sekitar pukul 12:30 WIB, rupiah terpantau berada di level Rp18.080/US$. Posisi tersebut membuat mata uang Garuda menguat sekitar 0,50% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sedangkan pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditutup menguat 0,66% di posisi Rp18.050/US$.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%.
Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.
(chd/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]