Breaking News! IHSG Dibuka Melesat 1,53%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2026), mencoba bangkit usai tekanan jual yang menghantam pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG melesat 1,53% atau naik 81,66 poin ke posisi 5.423,80. IHSG dibuka di level 5.344,69, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.342,14.
Pada awal sesi, penguatan indeks juga diiringi aktivitas transaksi yang cukup ramai. Tercatat volume perdagangan mencapai sekitar 1,02 miliar saham dengan nilai transaksi Rp986,5 miliar dan frekuensi perdagangan mencapai 68.740 kali.
Adapun pasar keuangan Indonesia masih berhadapan dengan sejumlah alarm yang menyala, baik dari global maupun domestik.Â
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Iran dan Israel pada Senin menyatakan telah menghentikan serangan setelah Presiden AS Donald Trump mendesak kedua pihak segera menghentikan baku tembak. Namun, Teheran memperingatkan akan kembali menyerang jika Israel terus menggempur Hezbollah di Lebanon.
Dalam 24 jam terakhir, kedua negara saling melancarkan serangan langsung terbesar sejak gencatan senjata April lalu. Iran menembakkan rudal ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel ke basis Hezbollah di Beirut, sementara Israel menyerang fasilitas petrokimia Iran yang disebut terkait program rudal balistik.
Ketegangan sempat mendorong harga minyak melonjak hingga 5%, namun kenaikannya mereda setelah Iran mengumumkan operasi militernya telah dihentikan. Sumber yang mengetahui situasi tersebut juga mengatakan Israel memutuskan menghentikan serangannya.
Sementara itu, di dalam negeri Bank Indonesia mencatat adanya penyusutan pada posisi cadangan devisa negara menjadi $144,9 miliar per akhir periode bulan Mei 2026. Terjadi penurunan sebesar US$1,3 miliar jika dibandingkan dengan bulan April 2026 yang mencatatkan level $146,2 miliar.
Posisi cadev ini adalah yang terendah sejak Juli 2024.
Penurunan ini didominasi oleh kewajiban pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Dana tersebut juga banyak dimanfaatkan sebagai alat intervensi bank sentral dalam menjaga kelancaran dan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah derasnya tekanan pasar keuangan global dan kebutuhan valuta asing dalam negeri.
Kendati mencatatkan penyusutan, posisi devisa bulan Mei dinilai kuat. Skala nominalnya mampu memfasilitasi kebutuhan dana 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor sekaligus pelunasan utang luar negeri, dan masih di atas acuan aman rasio internasional yaitu 3 bulan impor.
Kemudian, imbal hasil SBN tenor 10 tahun mulai melonjak hingga menyentuh posisi 7,313%. Posisi ini adalah yang tertinggi sejak November 2022 atau lebih dari tiga tahun.
Lonjakan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) menandakan investor mulai meminta kompensasi lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah. Kondisi ini biasanya terjadi ketika harga obligasi turun akibat aksi jual investor.
Kenaikan yield dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari keluarnya dana asing, pelemahan rupiah, meningkatnya risiko global, hingga ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Bagi pasar, yield yang melonjak menjadi sinyal kewaspadaan. Selain berpotensi meningkatkan biaya utang pemerintah, kondisi ini juga dapat menekan rupiah dan memengaruhi sentimen di pasar saham.
Yield SBN yang naik tajam mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset-aset Indonesia.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]