MARKET DATA

IHSG Jeblok ke Level 2021, Ini Dampak ke Industri Asuransi

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
04 June 2026 07:45
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Perusahaan asuransi menjadi salah satu investor institusional yang terdampak oleh pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pemain di industri pun menyoroti hal ini.

Tekanan terhadap pasar modal turut tercermin pada kinerja investasi industri asuransi jiwa sepanjang kuartal I-2026. Diketahui, hasil investasi industri asuransi jiwa tercatat terkontraksi hingga Rp1,6 triliun pada kuartal I-2026.

Dari seluruh portofolio investasi, instrumen saham menyumbang sekitar Rp112,64 triliun atau turun 5,9% secara tahunan (year on year/yoy).

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara mengatakan, pihaknya berharap pelemahan IHSG hanya bersifat sementara. Menurutnya, pasar saham masih memiliki peluang untuk kembali menguat atau rebound seiring membaiknya kondisi ekonomi dan sentimen pasar.

Meski demikian, Yulius menegaskan bahwa penempatan investasi di pasar modal bukan menjadi pilihan utama bagi industri asuransi karena tingkat risikonya yang relatif tinggi. Ia menyebut pengelolaan investasi perusahaan asuransi harus tetap mempertimbangkan kewajiban atau liability yang dimiliki perusahaan.

"Kami berharap turunnya IHSG hanya bersifat sementara. Jadi tetap berharap akan rebound. Placement investasi di pasar modal memang bukan menjadi pilihan utama mengingat risikonya yang cukup tinggi," ujar Yulius kepada CNBC Indonesia, Rabu, (3/6/2026).

Ia menambahkan bahwa penempatan investasi harus sejalan dengan kewajiban asuransi dalam memenuhi pembayaran klaim kepada nasabah (liability matching). Menurut Yulius, perusahaan asuransi wajib memastikan kecukupan likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang.

Ia mengakui investasi saham dapat memberikan imbal hasil yang optimal ketika kondisi ekonomi sedang baik. Namun, perusahaan asuransi tetap harus menerapkan manajemen risiko yang tepat dan menjalankannya secara disiplin guna menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Sementara itu, President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agastisianus, sebagai salah satu pemain swasta mengatakan, gejolak harga saham belakangan ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap portofolio investasi perseroan. Hal tersebut karena karakteristik bisnis asuransi umum yang lebih berfokus pada pemenuhan kewajiban jangka pendek.

Menurut Maximiliaan, portofolio investasi Asuransi Astra lebih banyak ditempatkan pada instrumen pasar uang dan surat utang atau fixed income dibandingkan saham. Dengan komposisi tersebut, eksposur perusahaan terhadap fluktuasi pasar saham relatif sangat kecil.

"Kalau di saham sangat minim, jadi tidak terlalu ter-impact," ujar Max ditemui usai Media Conference Asuransi Astra, Rabu, (3/6/2026).

Ia menambahkan bahwa untuk instrumen pasar uang dan obligasi, perusahaan hanya mengikuti perkembangan tingkat imbal hasil atau yield yang berlaku di pasar.

Diketahui, IHSG terus berada dalam tekanan sejak awal tahun 2026. Hingga penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), IHSG anjlok 4,11% atau 254,36 poin ke posisi 5.941,07.

Koreksi tersebut membuat IHSG menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir. Terakhir kali indeks ditutup lebih rendah dari posisi saat ini terjadi pada Mei 2021, ketika pasar masih berada dalam fase pemulihan setelah guncangan pandemi Covid-19 pada 2020.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article OJK Selidiki 181 Perkara Keuangan, Kasus Perbankan Paling Banyak


Most Popular
Features