MARKET DATA

Rupiah Makin Tertekan, Dolar AS Kini Dekati Rp17.800

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 May 2026 15:15
Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Petugas menghitung uang di tempat penukaran uang Dolar Asia, Melawai, Blok M, Jakarta, Selasa, (3/10). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup ambruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (26/5/2026), menjelang libur panjang Idul Adha.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.775/US$ atau melemah 0,25%. Posisi ini kembali menjadi level terlemah sepanjang masa rupiah dan semakin mendekatkan mata uang Garuda ke level psikologis berikutnya di Rp17.800/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam tekanan. Rupiah dibuka stagnan di level Rp17.730/US$, lalu berbalik melemah hingga sempat menyentuh Rp17.790/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau melemah. DXY turun 0,16% ke posisi 99,087 pada pukul 15.00 WIB.

Rupiah kembali gagal memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS di pasar global.

Dolar AS melemah pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang Iran yang sudah berlangsung tiga bulan.

Meski peluang kesepakatan dalam waktu dekat masih dinilai rendah, harapan damai telah mendorong harga minyak turun ke bawah US$100 per barel. Kondisi ini ikut meredakan tekanan terhadap mata uang negara berkembang dan memperbaiki minat pelaku pasar terhadap aset berisiko.

Perkembangan terbaru juga menunjukkan negosiator utama Iran dan menteri luar negerinya berada di Doha untuk melakukan pembicaraan dengan perdana menteri Qatar terkait potensi kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi tetap memperingatkan adanya serangan baru jika negosiasi gagal.

Di sisi lain, Komando Pusat AS menyatakan telah melakukan serangan baru untuk melindungi pasukannya dari ancaman pasukan Iran.

Meski situasi geopolitik masih belum sepenuhnya tenang, pasar mulai merespons kemungkinan adanya jalan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika risiko ekstrem terhadap pasokan minyak menurun, tekanan terhadap inflasi dan pertumbuhan global juga bisa ikut mereda.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Akhiri Tahun Menguat 0,51%, Dolar AS Turun ke Rp16.670


Most Popular
Features