MARKET DATA

Transaksi Digital Melonjak, tapi Ternyata Warga RI Masih Suka Cash

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
23 May 2026 13:05
Direktur Keuangan & Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini.
Foto: Direktur Keuangan & Strategi - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Novita Widya Anggraini saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Yogyakarta, CNBC Indonesia — Bank Mandiri mengungkapkan masyarakat Indonesia masih cukup bergantung pada transaksi tunai di tengah pesatnya pertumbuhan layanan digital banking dan penggunaan internet oleh generasi muda.

Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan transaksi digital memang terus meningkat seiring dominasi generasi milenial dan Gen Z dalam aktivitas internet nasional. Namun, penggunaan uang tunai masih relatif besar.

"Kami punya data bahwa masih ada sekitar 39% transaksi masyarakat yang sifatnya cash," ujar Novita dalam Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, transaksi tunai tersebut tidak hanya dilakukan melalui cabang bank, tetapi juga lewat mesin ATM.

Di sisi lain, sekitar 48%-49% transaksi masyarakat kini telah dilakukan melalui internet banking dan mobile banking. Sementara sekitar 10% transaksi berasal dari uang elektronik.

Novita menjelaskan perilaku transaksi masyarakat berubah seiring meningkatnya dominasi generasi muda dalam penggunaan internet.

"Millennial dan Gen Z ini ternyata interaksi sehari-harinya 95% menggunakan internet," katanya.

Ia menambahkan sekitar 93% penggunaan internet nasional saat ini didominasi kelompok milenial dan Gen Z yang secara populasi mencapai hampir 60% dari total penduduk Indonesia.

Menurut Novita, perubahan perilaku tersebut turut mendorong lonjakan transaksi digital di Bank Mandiri, khususnya melalui aplikasi Livin'.

Dalam sehari, transaksi yang mengakses aplikasi Livin' disebut telah mencapai sekitar 10 juta transaksi. Bahkan pada periode tertentu jumlahnya dapat menembus 13 juta transaksi per hari.

"Di Livin itu fungsinya benar-benar untuk daily life. Mulai dari beli transportasi online, top up e-money, transfer, sampai bayar uang sekolah," ujarnya.

Meski demikian, Bank Mandiri menilai perbankan tidak bisa sepenuhnya meninggalkan layanan offline karena masih ada kelompok masyarakat yang mengandalkan transaksi tunai.

"Bagaimana perbankan menyesuaikan dengan perilaku masyarakat ini menjadi challenge," katanya.

Oleh karena itu, Bank Mandiri mengaku tetap memperkuat layanan digital dan jaringan offline secara bersamaan untuk melayani seluruh segmen nasabah di Indonesia.

"Kita tetap memperkuat online dan offline branch untuk men-service semua nasabah," pungkasnya.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos BRI Bicara Evolusi Perbankan, Singgung Digitalisasi hingga AI


Most Popular
Features