Uang Masa Depan Warga RI Raib Rp 9,5 T, Bos OJK Ungkap Penyebabnya
Yogyakarta, CNBC Indonesia — Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan kerugian masyarakat akibat berbagai modus penipuan atau scam finansial mencapai Rp9,5 triliun dalam setahun terakhir.
Hal itu disampaikan Friderica dalam Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, maraknya penipuan digital menjadi ancaman serius di tengah semakin tingginya penggunaan teknologi dan layanan keuangan digital oleh masyarakat, terutama generasi muda.
"Yang sudah dilaporkan hilang Rp9,5 triliun. Itu uang masyarakat, uang yang harusnya kita simpan untuk masa depan kita," ujarnya.
Ia menjelaskan berbagai modus scam kini semakin beragam, mulai dari impersonation atau penyamaran identitas, penipuan investasi, hingga love scam yang memanfaatkan hubungan emosional korban.
"Ada impersonation, penipuan investasi, hati-hati. Love scam juga mulai banyak," katanya.
Friderica mengatakan Presiden telah menyampaikan rencana pembentukan Komite Nasional Kesejahteraan Keuangan yang salah satu fokusnya adalah meningkatkan edukasi masyarakat agar tidak mudah menjadi korban penipuan finansial.
"Bapak Presiden sudah menyampaikan akan membuat Komite Nasional Kesejahteraan Keuangan yang fokusnya bagaimana mengedukasi masyarakat supaya tidak kena scam dan uangnya hilang," ujarnya.
Ia pun mengingatkan generasi muda agar mulai mempelajari pengelolaan keuangan sejak dini, terlepas dari profesi yang ingin dijalani di masa depan.
"Apapun cita-citamu, kalian harus mengerti keuangan. Ada insinyur, doktor, hidupnya berantakan karena tidak bisa mengelola keuangan," katanya.
Selain itu, Friderica meminta masyarakat lebih bijak menggunakan teknologi di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan transaksi digital.
"Sekarang kalian dibombardir teknologi. Kalau tidak tahu apa yang digunakan, akhirnya pencet-pencet lalu uang hilang. Itu bahaya sekali," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong anak muda mulai membangun kebiasaan investasi sejak dini serta memahami pentingnya diversifikasi aset.
"Never put your eggs in one basket. Jadi investasi harus dibagi-bagi, bisa emas, properti, saham, reksa dana dan lainnya," katanya.
Ia menegaskan belajar mengelola uang sejak muda merupakan bekal penting untuk mencapai kebebasan finansial di masa depan.
"Anak muda yang belajar mengelola uang hari ini sedang menyiapkan kebebasan hidupnya di masa yang akan datang," pungkasnya.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]