MARKET DATA

IHSG Berbalik Menguat di Akhir Sesi 1, Rebound atau Mantul Sesaat?

mkh,  CNBC Indonesia
22 May 2026 12:45
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil berbalik menguat pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (22/5/2026), setelah sempat ambruk hingga meninggalkan level psikologis 6.000 pada awal perdagangan.

IHSG pada jeda makan siang hari ini ditutup naik 0,30% ke level 6.113,44 atau menguat 18,50 poin.

IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 5.966,86 pada awal sesi sebelum perlahan memangkas pelemahan dan berbalik ke zona hijau. Sementara level tertinggi sesi I tercatat di 6.135,12.

Nilai transaksi hingga akhir sesi I mencapai Rp10,16 triliun dengan volume perdagangan 18,5 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,12 juta kali.

Sebanyak 346 saham menguat, 372 saham melemah, dan 241 saham stagnan. Kapitalisasi pasar masih berkutat di bawah Rp 11.000 triliun atau tepatnya Rp 10.570 triliun. 

Berdasarkan data Refinitiv, sektor utilitas memimpin penguatan dengan kenaikan 1,28%, diikuti bahan baku 1,22% dan industrial 0,66%. Sementara sektor konsumer primer turun paling dalam, yakni -0,74%.

Dari sisi saham penggerak indeks, penguatan IHSG paling banyak ditopang oleh saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) yang menyumbang 3,87 poin. Kemudian PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) sebesar 3,59 poin, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 2,88 poin, serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar 2,46 poin.

Selain itu, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga turut menopang penguatan indeks.

Namun, kenaikan IHSG masih tertahan tekanan dari sejumlah saham big caps. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi penekan terbesar indeks dengan kontribusi negatif 7,30 poin. Disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 7,02 poin dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 6,26 poin.

Selain itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), hingga PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) juga membebani laju IHSG.

Secara teknikal, area 6.000 masih menjadi support psikologis penting bagi IHSG. Rebound pada sesi I hari ini memberi harapan meredanya panic selling, meski volatilitas pasar diperkirakan masih akan tinggi sepanjang perdagangan.

Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan, secara teknikal, posisi IHSG masih berada dalam tren pelemahan. Adapun tekanan pertama IHSG berasal dari hasil rebalancing MSCI yang membuat saham-saham berkapitalisasi besar ditinggalkan investor.

Sementara, Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan hal yang senada bahwa efek rebalancing MSCI masih terasa, dan masih memicu tekanan jual dari investor global.

Rupiah yang masih relatif lemah membuat investor asing cenderung lebih berhati-hati terhadap aset Indonesia, sehingga IHSG terlihat tertinggal dibanding bursa Asia lain.

Selain itu, investor juga turut mencermati wacana ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, yang memicu kekhawatiran akan ketidakpastian regulasi atau kontrol negara terhadap sektor swasta.

Rencana pemerintah melakukan sentralisaisi ekspor lewat satu badan juga disorot lembaga pemeringkat global.

S&P Global Ratings memperingatkan kebijakan ini dapat menimbulkan risiko terhadap ekspor, penerimaan negara, dan neraca pembayaran Indonesia.

"Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian penurunan yang lebih besar terhadap peringkat Indonesia," tulis S&P dikutip dari Reuters Kamis (21/5/2026).

S&P juga menilai investasi dapat terdampak jika perubahan aturan ini menurunkan kepercayaan dunia usaha dan sentimen investasi.

Sementara itu, Moody's menilai rencana sentralisasi ekspor dapat mendukung aliran devisa masuk, tetapi juga meningkatkan risiko distorsi pasar dan membebani sentimen investor.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sempat Balik Arah, Ini Penyebab IHSG Gagal Tutup di Zona Hijau


Most Popular
Features