MARKET DATA

Breaking News! IHSG Anjlok 2%

mkh,  CNBC Indonesia
21 May 2026 09:50
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin terpuruk pada perdagangan Kamis pagi (21/5/2026), dengan pelemahan menembus 2% di tengah aksi jual besar-besaran pada saham-saham Prajogo Pangestu.

Per pukul 09.43 WIB, IHSG ambles 2,02% atau turun 127,54 poin ke level 6.190,96. Pada awal perdagangan indeks sempat dibuka menguat dan menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81.

Sebanyak 481 saham terkoreksi, hanya 156 saham yang menguat, sementara 322 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp4,87 triliun dengan volume perdagangan 8,16 miliar saham dalam 546.300 kali transaksi.

Tekanan di pasar saham domestik terjadi di tengah respons investor terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Pelaku pasar terlihat melakukan aksi jual besar pada saham-saham dengan valuasi premium dan volatilitas tinggi, terutama emiten grup Prajogo Pangestu yang sebelumnya menjadi motor penggerak IHSG.

Saham Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), dan Barito Pacific (BRPT) kembali menjadi pemberat utama indeks. Tekanan juga terjadi pada saham-saham konglomerasi dan komoditas lainnya seperti Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Merdeka Gold Resources (MDKA), hingga Amman Mineral Internasional (AMMN).

Kenaikan BI Rate yang agresif memicu kekhawatiran investor terhadap likuiditas pasar dan kenaikan cost of capital, sehingga pasar cenderung mengurangi mengurangi risiko. 

Sementara itu, risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menunjukkan mayoritas pejabat The Fed dalam pertemuan terakhir mereka memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga akan diperlukan jika perang dengan Iran terus memperburuk inflasi. Pernyataan FOMC ini menjadi kabar buruk bagi dunia yang berharap The Fed akan segera memangkas bunga.

Investor kini memperkirakan peluang sebesar 48,6% bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada Desember, dan peluang 89,6% bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga saat ini pada pertemuan berikutnya di Juni

FOMC kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75% pada bulan lalu. Pertemuan tersebut diwarnai empat suara "tidak setuju" ("no" votes), jumlah terbanyak sejak 1992, serta tingkat perbedaan pendapat yang tampaknya semakin tinggi mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Isu utamanya adalah dampak perang Iran terhadap harga-harga dan bagaimana hal itu akan memengaruhi kebijakan moneter.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ini Penyebab IHSG Galau, Pagi Hijau Siang Merah


Most Popular
Features