MARKET DATA
Internasional

Kabar Baik Damai Perang AS-Iran dari Trump, Nikkei-Kospi Tebang

sef,  CNBC Indonesia
21 May 2026 08:57
papan saham elektronik yang menunjukkan kerugian awal indeks Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan sekuritas, Kamis, 3/4/2025 di Tokyo..(AP Photo/Shuji Kajiyama)
Foto: AP/Shuji Kajiyama

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah muncul harapan baru terkait kemungkinan berakhirnya konflik di Timur Tengah. Sentimen positif datang usai Iran menyatakan sedang mempelajari proposal baru dari Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang.

Indeks Nikkei 225 Jepang sempat melesat lebih dari 3% pada awal perdagangan Asia. Pada sekitar pukul 00.30 GMT, indeks acuan Tokyo itu tercatat naik 3,20% sebelum sedikit memangkas penguatannya.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan (Korsel) melonjak lebih tinggi hingga 5,42%. Reli pasar Korsel juga ditopang kabar positif dari negosiasi baru antara manajemen Samsung Electronics dan serikat pekerja yang berhasil mencegah aksi mogok kerja besar pada Kamis.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran kini berada di "borderline" atau di ambang antara tercapainya kesepakatan damai dan kembali pecahnya ketegangan. Trump juga menyebut negosiasi sudah memasuki "final stages" atau tahap akhir.

"Iran telah menerima pandangan dari pihak AS dan tengah mempelajarinya," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dimuat AFP.

Harapan berakhirnya konflik langsung memicu penurunan harga minyak dunia, yang anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Rabu. Sementara bursa saham AS ditutup menguat.

Meski demikian, analis mengingatkan investor masih berhati-hati karena sebelumnya negosiasi serupa beberapa kali gagal mencapai hasil nyata. Trump juga memperingatkan bahwa peluang diplomasi dapat tertutup dengan cepat apabila pembicaraan kembali menemui jalan buntu.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Dibuka Melemah Usai Ada Eskalasi Baru di Timur Tengah


Most Popular
Features