MARKET DATA

Daftar Sektor Penyumbang Pajak Terbesar ke Purbaya hingga April 2026

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
21 May 2026 07:25
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI dengan agenda keputusan RKA Tahun 2026 Kementerian Keuangan di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis 11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI dengan agenda keputusan RKA Tahun 2026 Kementerian Keuangan di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis 11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setoran pajak yang berhasil dikumpulkan pemerintah hingga akhir April 2026 senilai Rp 646,3 triliun, setara dengan 27,4% dari target APBN 2026 yang sebesar Rp 2.357,7 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, penerimaan pajak selama empat bulan pertama tahun ini telah mampu naik 16,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Pajaknya sendiri tumbuhnya 16% ya, dan kita akan dorong terus ke 20%," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta di kantornya, Jakarta, dikutip Kamis (21/5/2026).

Bila merujuk berdasarkan per sektor bisnis, setoran pajak hingga 30 April 2026 itu mayoritas disumbang oleh sektor usaha perdagangan yang secara neto nilainya Rp 161 triliun dengan kontribusi terhadap total penerimaan pajak 24,9%.

Setoran pajak dari sektor perdagangan ini secara neto tumbuh pesat, yakni mencapai 47,6% dipengaruhi oleh subsektor perdagangan besar BBM dan perdagangan online, sejalan dengan tren peningkatan belanja online.

"Perdagangan tumbuh 16,2%. Jadi masih ada yang beli tuh," kata Purbaya.

Penyumbang terbesar pendapatan pajak negara selanjutnya berasal dari industri pengolahan dengan nilai Rp 145,3 triliun. Kontribusinya setara 22,5% dari total penerimaan pajak dan mampu tumbuh 8,4% secara neto.

Purbaya menjelaskan, moncernya kinerja pendapatan pajak dari industri pengolahan terutama ditopang subsektor industri minyak kepala sawit yang profitabilitasnya meningkat.

Selanjutnya, berasal dari setoran pajak sektor pertambangan dengan nilai Rp 56,7 triliun secara neto dan kontribuisnya 8,8% terhadap total penerimaan pajak. Setoran pajak sektor pertambangan mampu tumbuh 6,8% ditopang oleh pertumbuhan sektor pertambangan migas.

"Pertambangan juga walaupun ribut-ribut masih tumbuh juga mungkin karena harga dunia yang bagus," tegas Purbaya.

Terakhir berasal dari sektor konstruksi dan real estat yang senilai Rp 24,2 triliun dengan kontribusi 3,7%. Adapun secara neto pertumbuhannya hanya 0,8% ditopang oleh subsektor real estat yang dimiliki sendiri.

"Tapi saya pikir kalau dari penjualan semen karena naik kencang ya. Ini pasti bentar lagi naik," ujar Purbaya.

Berdasarkan jenis pajaknya, setoran tertinggi dalam bentuk pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) senilai Rp 221,2 triliun dengan pertumbuhan 40,2% secara tahunan.

Berikutnya ialah dalam bentuk pajak penghasilan (PPh) Badan dan deposito PPh Badan senilai Rp 135,2 triliun dengan pertumbuhan 5,1%. Diikuti oleh PPh orang pribadi dan PPh 21 Rp 101,1 triliun dengan pertumbuhan 25,1%.

Adapun PPh final, PPh 22 dan PPh 26 sebesar Rp 109,1 triliun dengan pertumbuhan 9,8%, sedangkan lainnya Rp 79,7 triliun atau terkontraksi 12%.

"Berarti kan kuat. Padahal di luar banyak yang bilang daya beli sedang hancur. Ini yang bikin saya bingung sebetulnya.
Tapi ini yang kita lihat, bukan perasaan saya, ini data yang berbunyi seperti ini," kata Purbaya.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bank Mega Gelar Edukasi Coretax Pajak ke Nasabah


Most Popular
Features