Kinerja IHSG Sepanjang Tahun Berjalan Ternyata Terburuk di Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia — Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu yang terburuk di dunia sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Berdasarkan data perdagangan hingga 18 Mei 2026, IHSG tercatat ambles lebih dari 24% ytd. Penurunan ini menjadi yang paling dalam dibanding mayoritas bursa saham global utama.
Di kawasan Asia, pelemahan IHSG jauh lebih dalam dibanding bursa besar lain. Mengutip data Trading Economics, indeks India Nifty 50 turun 9,6% ytd dan Shanghai 50 China melemah 3,17%
Tekanan di pasar Indonesia juga terlihat lebih berat dibanding kawasan Eropa dan Australia. Mayoritas indeks Eropa terkoreksi di bawah 7% ytd, seperti PFTS Ukraina -6,96%, ISEQ Irlandia -6,45%, hingga DAX Jerman yang turun 2,78%.
Di Australia, ASX200 terkoreksi 2,88% ytd, sedangkan NZX50 Selandia Baru turun 5,8%.
Sementara di Afrika dan Amerika Latin, pelemahan juga relatif lebih moderat. Indeks Afrika Selatan SA40 hanya turun 1,89% ytd, sedangkan SEMDEXÂ di Mauritius -4,07%.
Secara bulanan, IHSG juga tercatat turun lebih dari 14%, memperlihatkan tekanan jual yang masih sangat kuat di pasar domestik.
Pada perdagangan hari ini, IHSGÂ sempat turun lebih dari 4% dan menutup sesi 1 dengan penurunan 3,76%. Pada akhir perdagangan IHSGÂ memangkas koreksi dengan turun 1,85%Â ke level 6.599,24.
Sementara itu mayoritas bursa saham di Asia Pasifik kompak bergerak di zona merah pada perdagangan hari ini. Namun, tekanan yang dialami IHSGÂ jauh lebih dalam dibanding mayoritas indeks utama kawasan.
Sebagai perbandingan, indeks Jepang Nikkei hanya turun 0,97%, Hang Seng Hong Kong melemah 1,11%, ASX200 Australia terkoreksi 1,45%, sedangkan Taiwan turun 0,68%.
Bahkan beberapa bursa utama Asia relatif mampu bertahan di zona datar. Shanghai Composite China hanya turun 0,09% dan India Nifty 50 minus 0,08%.
Di tengah tekanan regional, bursa Korea Selatan justru masih menghijau. KOSPI naik 0,31% dan STI di Singapura menguat 0,1%.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]