MARKET DATA

Merek Mobil Terkenal Malah Rugi Genjot Mobil Listrik, Berdarah-darah

tfa,  CNBC Indonesia
15 May 2026 21:30
An employee of Honda Automobile Thailand examines a batch of car ready for export at a factory in Ayuthaya, some 90 kilometers north of Bangkok, 14 July 2006.  The Automotive Industry Club said the high price of oil was forcing banks to tighten requi
Foto: Ilustrasi Pabrik Otomotif di Thailand. AFP/SAEED KHAN

Jakarta, CNBC Indonesia - Honda mencatat kerugian tahunan pertamanya sejak 1955 setelah gelombang pukulan terhadap industri kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) memaksa perusahaan membukukan penurunan nilai investasi besar-besaran.

Melansir CNN International, produsen otomotif asal Jepang itu melaporkan kerugian sebesar 1,6 triliun yen (Rp177,5 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.

Padahal sebelumnya Honda diperkirakan masih mampu mencetak laba hingga US$7,4 miliar atau sekitar Rp129,5 triliun. Alhasil, Honda membukukan rugi bersih sebesar 403,3 miliar yen (Rp44,7 triliun).

Kerugian ini dipicu perubahan besar kebijakan otomotif di Amerika Serikat (AS) pada era Presiden Donald Trump. Pemerintah AS mencabut aturan emisi ketat serta menghapus insentif pajak US$7.500 (Rp131,25 juta) bagi pembeli kendaraan listrik.

Hilangnya subsidi tersebut membuat penjualan EV di AS anjlok sejak September lalu. Di sisi lain, kenaikan harga bensin juga gagal mendongkrak minat masyarakat membeli mobil listrik.

Sebelumnya, banyak produsen otomotif global menggelontorkan investasi jumbo untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik penuh dalam satu dekade ke depan. Strategi itu diambil karena ekspektasi aturan emisi AS yang semakin ketat pada era pemerintahan Joe Biden.

Namun, pemerintahan Trump justru membatalkan regulasi tersebut dan menghapus ancaman sanksi besar bagi produsen mobil yang melanggar standar emisi.

Perubahan kebijakan itu membuat pabrikan otomotif kembali fokus menjual SUV dan truk berbahan bakar bensin yang selama ini menjadi sumber keuntungan terbesar mereka. Meski begitu, langkah tersebut juga memaksa perusahaan melakukan penyesuaian nilai investasi EV yang nilainya mencapai miliaran dolar AS.

Honda mengaku masih berpotensi mencatat tambahan penurunan nilai investasi EV pada tahun fiskal berjalan, meski perusahaan memperkirakan dampaknya tidak sampai menyebabkan kerugian tahunan kembali terjadi.

Gelombang kerugian akibat koreksi strategi EV juga dialami sejumlah produsen mobil besar lainnya. General Motors melaporkan kerugian US$7,2 miliar (sekitar Rp126 triliun) pada 2025 akibat pengurangan agresif bisnis kendaraan listriknya.

Sementara Ford mencatat kerugian hingga US$17,4 miliar (sekitar Rp304,5 triliun) dan memperingatkan potensi biaya tambahan pada tahun ini. Di saat bersamaan, Stellantis yang menaungi merek Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler membukukan kerugian 25,4 miliar euro (setara Rp521,97 triliun).

Meski demikian, produsen otomotif global belum sepenuhnya meninggalkan kendaraan listrik. Mereka masih menghadapi aturan emisi yang lebih ketat di Eropa dan Asia, termasuk di sejumlah negara bagian AS seperti California yang menargetkan pelarangan penjualan mobil bensin baru mulai 2035.

(tfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Astra (ASII) Ungkap Strategi Bersaing Lawan Mobil Listrik China


Most Popular
Features