MARKET DATA

Pasokan Terganggu, Harga Minyak Tembus US$107

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
13 May 2026 10:45
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia masih bertahan di zona panas. Perdagangan Rabu pagi (13/5/2026) memang bergerak sedikit melemah, tetapi posisi harga tetap berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir setelah pasar terus dihantui ketidakpastian perang Iran dan ancaman gangguan pasokan global.

Menurut Refinitiv pada Rabu (13/5/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent berada di US$107,08 per barel. Posisi ini turun tipis 0,64% dibanding penutupan sebelumnya di US$107,77 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$101,56 per barel, melemah 0,61% dari posisi Selasa di US$102,18 per barel.

Meski terkoreksi pagi ini, reli minyak masih sangat terasa. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir saja, Brent sudah melesat hampir 6%, dari US$101,29 per barel pada 8 Mei menjadi di atas US$107 per barel. WTI bahkan melonjak lebih dari US$6 dalam periode yang sama.

Pasar kini semakin pesimistis terhadap peluang damai di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi "life support". Pernyataan itu keluar setelah negosiasi kembali mentok akibat tuntutan Iran yang meminta penghentian perang di seluruh front konflik, pencabutan blokade laut AS, pemulihan ekspor minyak Iran, hingga kompensasi kerusakan perang.

Situasi makin rumit karena Iran mempertegas kontrol atas Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Reuters melaporkan Teheran mulai memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut, termasuk membuka kesepakatan pengiriman energi dengan Pakistan dan Irak. Sejumlah negara lain disebut mulai menjajaki pola serupa.

Kondisi itu membuat pelaku pasar khawatir gangguan pasokan akan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal. Badan Informasi Energi AS (EIA) kini memperkirakan Selat Hormuz efektif tertutup hingga akhir Mei. Sebelumnya, asumsi penutupan hanya sampai April.

Revisi EIA cukup agresif. Lembaga itu memperkirakan kehilangan pasokan minyak Timur Tengah mencapai 10,8 juta barel per hari pada Mei. Angka tersebut naik dari proyeksi sebelumnya 9,1 juta barel per hari. Secara global, stok minyak dunia diperkirakan menyusut 2,6 juta barel per hari sepanjang tahun ini. Sebulan lalu, estimasinya hanya sekitar 300 ribu barel per hari.

pasar sedang menghadapi tekanan pasokan dalam skala besar. Bahkan Houlihan Lokey memperkirakan kekurangan suplai global bisa mencapai 14 juta barel per hari. Saudi Aramco juga memperingatkan stabilitas pasar minyak kemungkinan baru pulih penuh pada 2027 apabila gangguan ekspor melalui Hormuz terus berlanjut.

Di sisi lain, stok minyak AS ikut menipis. Survei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika turun sekitar 2,1 juta barel pekan lalu. Persediaan bahan bakar juga diperkirakan ikut menyusut. Kondisi ini mempertebal sentimen bullish di pasar energi.

Namun harga tinggi mulai memukul permintaan. EIA memangkas proyeksi pertumbuhan konsumsi minyak global tahun ini menjadi hanya 200 ribu barel per hari, turun jauh dari estimasi sebelumnya 600 ribu barel per hari. Harga bensin AS pun diperkirakan naik menjadi rata-rata US$3,88 per galon tahun ini.

Pasar kini menunggu pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Kamis-Jumat pekan ini. Pertemuan tersebut dipandang penting karena China masih menjadi pembeli utama minyak Iran dan memiliki pengaruh diplomatik besar dalam konflik tersebut.

CNBC Indonesia 

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Donald Trump Mau Akhiri Perang, Harga Minyak Longsor ke US$105


Most Popular
Features