MARKET DATA

Misi Penyelamatan Rupiah Purbaya Dimulai Hari Ini, Begini Skenarionya!

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
13 May 2026 08:30
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemaparan saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemaparan saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menyentuh level terlemahnya pada akhir perdagangan Selasa (12/5/2026).Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490/US$. Posisi ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah terbaru.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa Kemenkeu akan mulai membantu Bank Indonesia untuk mengendalikan tekanan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, hari ini, Rabu (13/5/2026).

"Kita akan mulai membantu besok," kata Purbaya di kantornya, saat merespons nilai kurs yang terbang ke level Rp 17.500/US$, Selasa (12/5/2026).

Purbaya menjelaskan skema yang dimanfaatkan adalah dana stabilisasi obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF).

Hal tersebut diungkapnya ujar melakukan rapat dadakan dengan jajaran pejabat Kementerian Keuangan di lobi Gedung Djuanda I Kantor Pusat Kemenkeu, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Pejabat yang hadir di antaranya Sekertaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Direktur Jenderal Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti, hingga Plh Direktur Jenderal Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto.

Ia belum mau mengungkapkan strategi yang dijalankan pemerintah melalui BSF untuk membantu BI mengelola tekanan yang tengah dialami kurs rupiah terhadap dolar AS. Sebagaimana diketahui, kurs hari ini sempat tertekan ke level terburuk sepanjang sejarah, yakni Rp 17.500/US$.

"Strateginya masih rahasia, kalau dikasih tau nanti musuh tahu," tegasnya.

Meski begitu, ia memastikan, skema BSF akan digunakan pemerintah dalam mengelola tekanan terhadap kurs rupiah dengan cara intervensi pemerintah di pasar obligasi demi menjaga tingkat imbal hasil atau yield yang kompetitif.

Cara menjaga yield ini ialah dengan memanfaatkan dana BSF yang dikumpulkan untuk membeli SBN atau surat utang yang dilepas asing. Kebijakan ini tidak perlu berkoordinasi dengan BI ataupun OJK dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan pada tahap awal rencananya mengandalkan kas negara.

"Kita akan coba melihat apakah kita bisa membantu stabilitas di pasar bond nanti pelan-pelan ke pasar nilai tukar juga," papar Purbaya.

Purbaya juga mengatakan siap menghadap pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait dengan pelemahan rupiah.

Hal ini menyusul pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS. Puan pun menyatakan DPR akan meminta penjelasan dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk menjelaskan perihal rupiah.

Kendati siap, Purbaya menegaskan bahwa urusan rupiah menjadi tanggung jawab bank sentral. Dia pun mengaku belum menerima undangan dari pimpinan DPR.

"Belum, tapi kalau rupiah itu urusan bank sentral, bukan urusan kementerian keuangan ya. Mau dipanggil, iya kita siap," kata Purbaya di Kementerian Keuangan, Selasa (12/5/2026).

"Saya belum tau, belum ada undangannya. Tapi saya siap. Kalau saya kan pasif di situ, urusan bank sentral saja yang menjelaskan kenapa," tegas Purbaya.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Siap Jelaskan Pelemahan Rupiah ke DPR


Most Popular
Features