MARKET DATA

Rupiah Masih Terancam, Tapi Dolar Gak Bakal Tekan ke Rp18.000/US$!

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
08 May 2026 11:55
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (8/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan pagi ini di zona merah dengan koreksi 0,06% ke level Rp17.340/US$.

Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan Kamis (7/5/2026), rupiah mampu ditutup menguat 0,29% ke posisi Rp17.330/US$.

Meski telah balik ke zona di bawah Rp 17.400/US$ setelah tekanan awal pekan ini, sejumlah kalangan ekonom menganggap, potensi risiko pelemahan rupiah masih akan berlanjut pada kuartal II-2026.

Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, selain akibat tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan, pelemahan rupiah saat ini juga dipengaruhi faktor musiman, yakni pembayaran aset keuangan domestik kepada investor non residen yang meningkatkan kebutuhan dolar AS.

"Pada Q2 2026 memang ada pola musiman pembayaran return aset keuangan domestik ke non residen yang mengakibatkan pelemahan Rupiah," ujar Faisal kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (8/5/2026).

Di sisi lain, terdapat ketidakpastian global yang masih membayangkan rupiah dan mengakibatkan meningkatnya sentimen risk-off.

Kendati demikian, Faisal menilai tekanan depresiasi rupiah masih relatif terkendali dan peluang menembus Rp 18.000/US$ belum terlalu besar.

"Tekanan depresiasi kemungkinan besar akan berlanjut, tapi rasanya Rupiah masih akan mampu bertahan di bawah Rp 18.000," ujarnya.

Senada, Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menjelaskan ruang pelemahan rupiah saat ini cenderung terbatas karena tekanan capital outflow tidak lagi sebesar awal tahun.

Pasalnya, investor asing sebelumnya sudah banyak keluar dari pasar saham domestik sepanjang Januari hingga Maret 2026. Karena itu, potensi arus keluar lanjutan dinilai tidak akan terlalu besar.

"Karena dari permintaan valas itu. Kalaupun ada capital outflow di pasar saham, ya saya rasa sih tekanannya sudah tidak sebesar pada periode awal tahun ini ya, jadi ya kalaupun ada outflow di pasar saham ataupun pasar surat utang negara, dampaknya tidak sebesar pada periode bulan Januari, Februari ataupun Maret," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia dikutip Jumat (8/5/2026).

Selain itu, Bank Indonesia dinilai masih memiliki kapasitas yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas maupun pasar surat utang negara.

Myrdal menambahkan, minat investor asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia juga maish cukup tinggi, terutama ketika yield Surat Utang Negara (SUN) naik mendekati asumsi APBN sebesar 6,9%.

"Di saat yieldnya itu mendekati asumsi yield APBN kita 6,9%, investor asing itu langsung masuk, jadi ya saya rasa sih kalau untuk dampak dari hot money outflow pengaruhnya sudah mulai terbatas," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan Perry menjelaskan, pelemahan rupiah ini merupakan faktor global karena adanya kenaikan tensi geopolitik yang memicu meroketnya harga minyak, kemudian tekanan dari suku bunga AS serta meningkatnya indeks dolar (DXY) sebesar 4,41%.

Kondisi ini memicu aliran dana keluar dari seluruh negara, termasuk emerging market.

Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kamis (7/5/2026).

Di tengah dinamika tersebut, pada bulan April hingga Mei, permintaan dolar di Indonesia tinggi sejalan dengan adanya musim Haji, serta repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

"Kondisi global begitu, nah kebetulan secara musiman April-Mei itu permintaan valas tinggi untuk kita doakan masyarakat umroh-Haji insyaallah sehat mabrur dan pastikan kebutuhan dolar terpenuhi April-Mei karena korporasi banyak repatriasi dividen, bayar utang luar negeri," kata Perry.

"Memang kondisinya begitu BI all out jaga rupiah, koordinasi erat dengan pemerintah dan mendapat dukungan penuh dari Presiden," tegas Perry.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kurs Dolar AS Capai Rp 16.685, Bos BI Klaim Rupiah Stabil


Most Popular
Features