Depan Prabowo, Purbaya & Bos BI Sepakat Jaga Dolar Tak Tinggalkan RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) mengambil kebijakan strategis untuk menjaga stabilitas rupiah dan sekaligus mengamankan kebutuhan dolar AS di Tanah Air.
Kebijakan ini telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan khusus di Istana Negara oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) serta Ketua DK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari dan Ketua DK Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu kemarin, Selasa (5/5/2026).
Dalam konferensi pers sesudah pertemuan, Airlangga mengungkapkan Presiden Prabowo menaruh perhatian terhadap capital outflow atau aliran modal keluar yang terjadi beberapa waktu terakhir. Aliran keluar dari modal asing ini, lanjutnya, disebabkan oleh faktor sentimen di pasar modal RI, SBN tetapi dinetralistir oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Dan tadi disepakati, dilaporkan ke Bapak Presiden, kesepakatan kerja sama antara BI dan Menteri Keuangan sehingga ke depan ini bisa dijaga terkait dengan capital outflow," ujarnya Airlangga.
Gubernur BI Perry Warjiyo pun mengungkapkan 7 langkah yang akan diambil bank sentral dalam rangka menekan capital outflow sekaligus menjaga rupiah.
Pertama, BI terus melakukan intervensi di pasar valas, baik di dalam negeri melalui transaksi tunai dan domestic delivery, maupun di pasar luar negeri melalui instrumen non-delivery forward (NDF). Intervensi dilakukan di sejumlah pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
"Kami akan terus melakukan intervensi secara tunai dan domestic delivery di dalam negeri dan juga non-delivery forward di pasar luar negeri," tegas Perry.
Kedua, BI dan Kementerian Keuangan mendorong aliran masuk dana asing melalui instrumen SRBI guna menutup arus keluar (outflow) dari SBN dan pasar saham. Ketiga, Perry mengungkapkan komitmen BI melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar obligasi. Hingga saat ini, pembelian SBN oleh BI tercatat mencapai Rp123,1 triliun secara year to date.
Keempat, lanjut Perry, BI akan menjaga likuiditas perbankan dan pasar agar tetap longgar. Menurut BI, indikasi likuiditas longgar sudah tercermin dalam pertumbuhan uang primer yang mencapai double digit.
"Kami juga dengan Pak Menteri Keuangan menjaga likuiditas di perbankan dan pasaran lebih dari cukup, yaitu terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu double digit. Di terakhir itu pertumbuhan uang primernya adalah 14,1%," ujarnya.
Selanjutnya, Perry menuturkan BI akan membatasi pembelian dolar AS di pasar domestik tanpa underlying dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan. Langkah ini diambil dalam rangka menjaga stabilitas rupiah dan menekan spekulan.
"Sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying ya. Itu yang kami akan perkuat, ini akan kami perkuat dalam negeri," kata Perry.
Keenam, BI akan terus memperkuat intervensi di pasar offshore melalui NDF dengan memperluas partisipasi bank domestik untuk melakukan transaksi di pasar luar negeri.
"Selain intervensi yang terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih, lebih banyak sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar Rupiah," ujarnya.
Terakhir, BI akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar oleh perbankan dan korporasi. Perry mengatakan pengawasan dilakukan bersama OJK untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
"Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Friderica Widyasari," katanya
Menkeu Purbaya menambahkan Kementerian Keuangan akan melakukan penerbitan surat utang denominasi yuan China alias Panda Bond. Kebijakan ini diambil guna mengurangi ketergantungan dolar AS.
"Sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi. Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, nggak usah takut. Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya, suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak. Jadi Anda nggak usah takut," tegas Purbaya.
Terkait dengan pasar modal, Purbaya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang mengalami akselerasi. Dia memastikan Indonesia kini sudah bisa membalik ekonominya.
Oleh karena itu, imbuh dia, investor yang memilih bertahan di pasar modal Indonesia dan menumpuk pembelian akan mendapat untung besar.
"Dibanding sebelum-sebelumnya 5 atau di bawah 5 sedikit kan. Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi. Itu yang tidak disadari banyak orang, sehingga orang agak takut dan keluar dari pasar modal," kata Purbaya usai rapat bersama dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Selasa 5/5/2026) malam.
"Kan saya kemarin-kemarin bilang serok, serok, serok saja. Kalau mereka ikut mestinya nanti ke depan akan untung banyak," ujarnya.
Dia juga menegaskan bahwa pemerintah akan fokus menjaga pertumbuhan ekonomi d kuartal II-2026. Termasuk dengan stimulus ekonomi lanjutan.
"Yang jelas ekonomi sedang sedang menuju pertumbuhan angka yang lebih cepat dan akan kita jaga untuk triwulan kedua dengan berbagai kebijakan, koordinasi dengan Bank Sentral juga menjaga sistem apa kondisi kondisi likuiditas," ujar Purbaya.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]