Video: Dominasi Dolar AS Kuat, Apa Efeknya ke Pasar Derivatif Valas?
Jakarta, CNBC Indonesia- Dolar AS terus menguat di tengah kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian perang Timur Tengah dan potensi berakhirnya era suku bunga rendah serta ancaman kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral akibat tekanan geopolitik & ekonomi global.
Pada pembukaan perdagangan, Senin (04/05/2026), Rupiah melemah ke level Rp 17.320 per Dolar AS. Dimana kondisi ini tidak lepas dari kondisi pasar di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik global yang menyebabkan investor mencari aset lindung nilai seperti Dolar AS dan menekan nilai Rupiah.
Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia, Budi Susanto mengungkapkan konsensus pasar yang memperkirakan kondisi tekanan terhadap Rupiah ini terus menurun seiring dengan tren pelemahan indeks Dolar AS hingga akhir tahun 2026 sehingga diharapkan penguatan Rupiah dapat terjadi.
Saat ini kondisi volatilitas yang masih tinggi membuat kebutuhan hedging atau lindung nilai masih sangat tinggi guna melindungi aset maupun transaksi.
Selengkapnya simak dialog Syarifah Rahma dengan Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia, Budi Susanto dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Senin, 04/05/2026)
Add
source on Google