MARKET DATA

Harga Saham Ambles 90%, Influencer TikTok Ini Terancam Boncos

Redaksi,  CNBC Indonesia
04 May 2026 09:40
Profil Khaby Lame. (REUTERS/Yara Nardi)
Foto: Profil Khaby Lame. (REUTERS/Yara Nardi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bintang TikTok dunia, Khaby Lame kini terancam bangkrut. Nasib kesepakatan jumbo senilai hampir US$975 juta yang melibatkannya mendapatkan tekanan berat. Penyebabnya, saham perusahaan mitranya, Rich Sparkle Holdings, ambles hingga sekitar 90% dalam waktu singkat.

Mengutip Business Insider, yang diterbitkan pada 14 April 2026, harga saham Rich Sparkle yang sempat melesat di atas US$180 kini terjun bebas ke kisaran US$11. Penurunan drastis ini langsung menggerus potensi nilai yang bisa diterima Lame, mengingat kompensasinya bergantung pada harga saham perusahaan tersebut.

Dalam skema transaksi, perusahaan Lame akan menerima sekitar 75 juta saham baru dengan harga indikatif US$13 per saham. Namun, nilai riil yang bisa dikantongi sangat ditentukan oleh harga pasar. Artinya, saat saham jatuh, nilai kekayaan yang diharapkan ikut menyusut tajam.

Meski begitu, hingga kini kesepakatan tersebut belum resmi rampung atau mendapatkan persetujuan dari otoritas bursa. Dengan demikian, dampak terhadap kekayaan aktual Lame masih bersifat potensi, bukan realisasi.

Rich Sparkle sendiri berencana mengembangkan avatar kecerdasan buatan (AI) dari Lame untuk mendorong bisnis e-commerce dan endorsement secara global. Proyeksi yang dipatok pun ambisius, yakni potensi penjualan hingga US$4 miliar per tahun.

Namun, sejumlah analis menilai target tersebut terlalu optimistis. Pasalnya, pasar live commerce di luar China, termasuk Amerika Serikat, masih jauh tertinggal. Bahkan, capaian penjualan platform besar di AS belum mendekati angka tersebut.

Selain itu, model bisnis yang bertumpu pada satu figur juga dinilai berisiko tinggi. Ketergantungan terhadap popularitas individu membuat valuasi perusahaan menjadi sulit diukur dan rentan terhadap volatilitas.

Pun mengonversi popularitas media sosial menjadi bisnis publik berskala besar bukan perkara mudah. Sejumlah perusahaan berbasis influencer sebelumnya juga mengalami kegagalan setelah melantai di bursa.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Saham Naik Tajam, BEI Gembok Perdagangan 6 Emiten Ini


Most Popular
Features