Timah (TINS) Kantongi Laba Rp 1,31 T di 2025, Capai 119% dari Target
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Timah (Persero) Tbk laba usaha sebesar Rp1,82 triliun sepanjang 2025, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,81 triliun. Sementara itu laba bersih perusahaan naik 5,12% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1,31 triliun.
Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro mengatakan bahwa capaian laba bersih mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. "Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Kinerja bottom line perusahaan didukung oleh pendapatan sebesar Rp11,55 triliun meningkat 6,41% yoy. Hal ini seiring dengan kenaikan harga jual rata-rata logam timah.
Sepanjang 2025, harga logam timah global tercatat naik dibandingkan tahun sebelumnya didukung oleh meningkatnya permintaan untuk semikonduktor, panel fotovoltaik dan teknologi transisi energi lainnya.
Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price London Metal Exchange (LME) tahun 2025 sebesar US$ 34.119,96 per ton atau naik 13% dibandingkan
dengan tahun sebelumnya sebesar USD$ 30.177,45 per ton.
Persediaan timah di gudang LME pada akhir Desember 2025 berada di posisi 5.420 ton, naik 14% dari awal tahun 2025 di posisi 4.760 ton.
Berdasarkan CRU Tin Monitor, pada tahun 2025 produksi logam timah global diperkirakan sebesar 371.369 ton. Sedangkan konsumsi logam timah global diperkirakan sebesar 389.404 ton.
Sementara itu, pada akhir tahun 2025, nilai aset Perseroan naik 6,75% menjadi Rp13,64 triliun dari Rp12,78 triliun pada akhir tahun 2024, dikarenakan peningkatan piutang usaha yang belum jatuh tempo di akhir tahun 2025. Sedangkan posisi liabilitas Perseroan sebesar Rp5,23 triliun, naik 0,80% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp5,19 triliun.
Posisi ekuitas di tahun 2025 sebesar Rp8,41 triliun mengalami kenaikan 10,83% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp7,59 triliun, seiring dengan dibukukannya laba di tahun 2025.
Kinerja keuangan Perseroan juga didukung beberapa rasio keuangan penting di antaranya Quick Ratio sebesar 60,6%, Current Ratio sebesar 242,8%, Debt
to Asset Ratio sebesar 11,5%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 18,7%.
Pada 2026, Perseroan akan berfokus pada pemulihan kapasitas produksi secara agresif dan penguatan nilai tambah melalui hilirisasi. Sebagai bagian dari Holding Pertambangan Indonesia, Perseroan memposisikan diri untuk memanfaatkan momentum harga timah global yang tinggi dan penertiban tambang ilegal di Indonesia yang cukup mempengaruhi aliran supply logam timah secara global.
Adapun strategi utama Perseroan di tahun 2026 diantaranya meliputi akselerasi produksi dan optimalisasi cadangan, ekspansi hilirisasi dan diversifikasi produk, transformasi digital dan keberlanjutan (ESG), optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis, optimaliasi kinerja anak perusahaan, aset non operasi dan sinergi lainnya dalam mendukung keberlanjutan Perseroan.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]