MARKET DATA

Harga Minyak Melemah ke US$94, Pasar Tunggu Perundingan AS-Iran

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
21 April 2026 10:20
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa pagi (21/4/2026), setelah reli tajam sehari sebelumnya. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke peluang perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diperkirakan berlangsung pekan ini, di tengah gangguan pasokan dari Selat Hormuz yang belum sepenuhnya reda.

Berdasarkan Refinitiv hingga pukul 09.30 WIB, kontrak Brent berada di US$94,92 per barel, turun dari penutupan sebelumnya US$95,48 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$88,50 per barel, lebih rendah dari posisi Senin di US$89,61 per barel.

Meski terkoreksi pagi ini, level harga minyak masih bertahan tinggi. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent telah melonjak dari US$94,75 pada 8 April ke US$94,92 hari ini, sempat menyentuh area US$99 pada 13 April dan 16 April. WTI bahkan bergerak jauh lebih volatil, dari US$94,41 pada 8 April, melonjak ke US$99,08 pada 13 April, lalu anjlok ke kisaran US$83,85 pada 17 April sebelum kembali naik ke US$88,50 pagi ini.

Melansir Ruters, pergerakan liar tersebut lahir dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Reuters melaporkan Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Senin, jalur laut vital yang dilewati sekitar seperlima suplai minyak dunia. Di saat yang sama, Amerika Serikat menyita kapal kargo Iran sebagai bagian dari blokade pelabuhan negara tersebut.

Namun reli harga mulai mendingin karena pasar melihat peluang gencatan senjata diperpanjang, atau bahkan lahir kesepakatan baru dalam pembicaraan pekan ini. Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran masih mempertimbangkan kehadiran dalam perundingan damai di Pakistan, yang diinisiasi Islamabad untuk meredakan konflik.

Artinya, pasar kini berada di dua kutub besar: ancaman pasokan yang nyata, dan harapan diplomasi yang belum pasti. Selama dua faktor ini bertarung, harga minyak rawan bergerak cepat ke dua arah dalam waktu singkat.

Citigroup memperkirakan bila gangguan di Selat Hormuz berlangsung satu bulan lagi, total kehilangan pasokan global dapat mencapai 1,3 miliar barel, dengan harga minyak berpotensi mendekati US$110 per barel pada kuartal II-2026. Skenario ini cukup masuk akal mengingat jalur tersebut merupakan nadi ekspor minyak Teluk Persia.

Dampak lonjakan harga sudah mulai terasa di sisi konsumsi. Societe Generale memperkirakan permintaan minyak global sejauh ini turun sekitar 3% akibat harga energi yang terlalu tinggi. Saat harga melonjak tajam, industri dan konsumen biasanya mulai menahan penggunaan bahan bakar.

Kuwait bahkan telah menyatakan force majeure atas pengiriman minyak karena blokade Hormuz. Jika negara-negara produsen Teluk mulai terganggu ekspornya, tekanan harga dapat bertahan lebih lama dari perkiraan awal.

Untuk saat ini, level US$95 Brent menjadi area psikologis penting. Bila negosiasi damai berjalan mulus, harga bisa terkoreksi lebih dalam menuju kisaran US$90. Namun jika pembicaraan gagal dan Selat Hormuz tetap tersendat, pasar berpeluang kembali menyerang area US$100 hingga US$110 per barel.

CNBC Indonesia

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Global Kelebihan Pasokan, Harga Minyak Longsor Lagi


Most Popular
Features