MARKET DATA

12 Negara Minta Utang ke IMF, Purbaya: Indonesia Tidak Perlu!

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
17 April 2026 09:55
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Biro KLI Kemenkeu)
Foto: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Biro KLI Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga energi dan gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah menyebabkan tekanan krisis global kian dalam, terutama bagi negara berkembang.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan sedikitnya 12 negara tengah bersiap mengajukan pinjaman baru untuk meredam dampak dari ketidakpastian global tersebut.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan permintaan bantuan keuangan berpotensi melonjak signifikan. Ia memperkirakan kebutuhan dukungan baru bisa mencapai US$20 miliar hingga US$50 miliar atau setara Rp340 triliun hingga Rp850 triliun (kurs Rp17.000/US$).

"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru dalam jumlah besar, baik dalam bentuk pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan," ujar Georgieva dalam konferensi pers di sela Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia di Washington, seperti dikutip Reuters, Kamis (16/4/2026).

Ia menambahkan, sebagian negara Afrika sub-Sahara telah mulai mencari bantuan. Namun, IMF belum membahas tambahan program pinjaman untuk Mesir yang saat ini memiliki fasilitas senilai US$8 miliar atau sekitar Rp136 triliun.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia optimis masih memiliki ruang fiskal yang memadai untuk menghadapi tekanan global.

Pernyataan tersebut, disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai bertemu dengan Managing Director IMF, Kristalina Georgieva dalam agenda IMF Spring Meetings di Washington DC Amerika Serikat.

"Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan karena negara kita cukup baik, dan kita masih punya batas yang cukup besar, yaitu Rp420 T yang saya bilang sebelumnya," ujarnya.

IMF pun sempat mempertanyakan bagaimana Indonesia mampu tetap solid di tengah situasi yang tidak mudah. Purbaya menjawab, ketahanan tersebut merupakan hasil perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah sejak tahun lalu.

Reformasi kebijakan tersebut dinilai membuat ekonomi Indonesia lebih siap menghadapi guncangan eksternal.

"Kenapa kita bisa bertahan di tengah keadaan global yang seperti ini. Tapi saya jelaskan bahwa memang kita sudah merubah kebijakan sejak tahun lalu, dan tampaknya sudah jelas. Jadi kita sedang mengalami percepatan ketika shock dari ketidakpastian global, dari harga minyak yang tinggi. Sehingga kita bisa menyerap shock yang terjadi," ujarnya.

(mij/mij) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Awas! Ekonom Ungkap 4 Risiko yang Bisa Guncang Ekonomi RI


Most Popular
Features