MARKET DATA

Jalan Damai AS-Iran Kembali Mencuat, Harga Minyak Longsor ke US$94

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
15 April 2026 10:25
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali bergerak turun pada perdagangan Rabu pagi, di tengah harapan pasar bahwa jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih terbuka. Pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko setelah reli tajam yang terjadi sejak awal pekan.

Merujuk data Refinitiv per Rabu (15/4/2026) pukul 09.30 WIB, harga Brent berada di US$94,62 per barel, turun 0,18% dibanding penutupan sebelumnya di US$94,79 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$90,70 per barel, melemah 0,64% dari posisi US$91,28 per barel.

Penurunan ini memperpanjang koreksi sehari sebelumnya. Pada Selasa, Brent anjlok 4,6% dan WTI jatuh 7,87%, setelah pasar menilai peluang pembicaraan baru antara Washington dan Teheran dapat meredakan konflik yang selama ini mengganggu arus energi global.

Fokus utama pasar masih tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini membuat harga sempat melonjak ke atas US$109 per barel pada 7 April lalu. Saat itu Brent sempat menyentuh US$109,27, sedangkan WTI menembus US$112,95.

Namun reli tersebut perlahan memudar. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent sudah turun sekitar 13,4% dari puncaknya, sedangkan WTI terkoreksi hampir 19,7%. Artinya, pasar mulai percaya gangguan pasokan tidak akan berlangsung permanen.

Reuters melaporkan tim negosiasi AS dan Iran berpeluang kembali bertemu di Islamabad pekan ini. Seorang pejabat AS menyebut komunikasi masih berjalan, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan upaya mediasi terus dilakukan.

Meski begitu, risiko belum hilang. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan efektif tertutupnya Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, dengan sekitar 10,1 juta barel per hari pasokan hilang pada Maret.

IEA juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 sebesar 80 ribu barel per hari, sementara pasokan global kini diperkirakan turun 1,5 juta barel per hari. Gambaran ini memberi sinyal ekonomi dunia berpotensi melambat bila krisis berkepanjangan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kapal Tanker AS Disita Venezuela, Harga Minyak Gak Bergerak


Most Popular
Features