MARKET DATA

Waspada! Perang AS-Iran Bisa Bikin Stagflasi Dunia Muncul Lagi

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
13 April 2026 11:11
Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Keynote Speech Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam acara Central Banking Forum 2026, di Grand Ballroom Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian global kembali berpotensi mengalami stagflasi, seperti periode Covid-19. Stagflasi ialah kondisi yang menggambarkan aktivitas perekonomian global akan mengalami perlambatan yang konsisten namun diiringi dengan tekanan inflasi yang makin tinggi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, risiko stagflasi dunia ini mencuat setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah membuat berbagai harga komoditas mengalami tekanan tinggi, akibat terganggunya salah satu jalur utama perdagangan migas dunia, Selat Hormuz.

"Sehingga ini meningkatkan biaya pengapalan dan logistik naik jadi ada gangguan global supply chain. Kesimpulannya harga komoditas global naik, emas, coal, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi," kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Destry menjelaskan, naiknya harga komoditas perdagangan global yang membuat penurunan produksi tentu akan menghambat aktivitas ekonomi global, hingga membuat laju pertumbuhan PDB dunia melambat. Namun, tekanan itu terjadi diiringi dengan tingginya kenaikan harga akibat gangguan pasokan, bukan karena tingginya permintaan.

"Dampak nya PDB global akan melambat tapi inflasi akan meningkat. Ini namanya stagflasi, enggak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting," kata Destry.

Merespons risiko global itu, bank sentral di berbagai dunia kata Destry akan mengambil sikap berhati-hati dalam meramu kebijakan moneter bersama dengan pemerintahannya, melalui kebijakan fiskal.

"Beberapa negara kebijakan fiskalnya akan longgar. Moneter yang tren ke bawah akan lebih berhati-hati karena sekarang lomba membuat aset domestik menjadi menarik," ungkap Destry.

(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article The Fed Pangkas Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Pesta Pora


Most Popular
Features