MARKET DATA

Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Masih Pantau Ketat Selat Hormuz

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 April 2026 11:05
Ketergantungan Asia pada Impor Energi dari negara Teluk
Foto: Infografis/ Ketergantungan Asia pada Impor Energi dari negara Teluk/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia bergerak naik pada perdagangan Jumat pagi (10/4/2026), di tengah eskalasi risiko geopolitik yang kembali menjadi perhatian pasar.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09:45 WIB, Brent berada di level US$96,62 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$98,84 per barel.

Kenaikan ini datang setelah tekanan tajam yang sempat menyeret harga dari kisaran US$109 pada awal pekan ke bawah US$95. Dalam empat hari terakhir, Brent turun dari US$109,77 (6 April) menjadi US$94,75 (8 April), sebelum perlahan pulih kembali. WTI bahkan sempat menyentuh US$112,95 pada 7 April, lalu terkoreksi cepat ke US$94,41 sehari setelahnya. Pergerakan ini memperlihatkan volatilitas tinggi dengan rentang lebih dari US$15 hanya dalam hitungan hari.

Sentimen utama datang dari serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi yang memangkas produksi sekitar 600 ribu barel per hari. Selain itu, aliran minyak melalui East-West Pipeline ikut terganggu hingga 700 ribu barel per hari. Dalam waktu hampir enam pekan konflik berlangsung, sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak dilaporkan tidak beroperasi akibat kerusakan infrastruktur di kawasan Teluk.

Di sisi lain, Selat Hormuz masih belum kembali normal. Jalur vital yang menjadi nadi distribusi minyak global itu praktis tertutup sejak konflik memanas akhir Februari. Pelaku pasar kini memantau pergerakan kapal tanker secara ketat, terutama menjelang pembicaraan lanjutan yang dimediasi Pakistan. Ada wacana dari Iran untuk mengenakan biaya lintasan kapal, yang mendapat penolakan dari negara Barat dan lembaga pelayaran internasional.

Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran sempat memberi ruang napas bagi pasar, namun ketidakpastian tetap tinggi. Aktivitas militer yang masih berlangsung membuat premi risiko tetap terjaga di harga minyak. Dalam skenario ekstrem, analis memperkirakan harga bisa melonjak jauh lebih tinggi apabila aliran dari Hormuz tetap tertahan di level saat ini.

CNBC Indonesia

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Global Kelebihan Pasokan, Harga Minyak Longsor Lagi


Most Popular
Features