MARKET DATA

Israel Serang Lebanon, Harga Minyak Memanas Lagi

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
09 April 2026 11:05
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kembali merangkak naik pada Kamis pagi (9/4/2026), setelah sempat jatuh tajam dalam dua hari terakhir. Pasar belum menemukan pijakan yang benar-benar stabil di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlapis.

Mengacu data Refinitiv per pukul 09.55 WIB, harga Brent berada di level US$96,76 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di US$97,05 per barel. Keduanya bergerak naik dibandingkan penutupan sehari sebelumnya, yakni Brent US$94,75 dan WTI US$94,41.

Kenaikan ini terjadi setelah koreksi dalam yang terjadi pada 7-8 April. Brent sempat berada di atas US$109 per barel pada 7 April, sementara WTI menyentuh US$112,95. Dalam waktu dua hari, pasar kehilangan lebih dari US$15 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu yang paling tajam sejak periode volatilitas ekstrem sebelumnya.

Arah pergerakan harga masih sangat dipengaruhi oleh dinamika di Timur Tengah, khususnya terkait gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan yang diharapkan membuka kembali jalur pasokan ternyata belum direspons penuh oleh pelaku pasar.

Selat Hormuz masih menjadi titik krusial. Jalur ini menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Qatar. Aktivitas pengiriman belum sepenuhnya pulih karena pelaku logistik masih menunggu kepastian keamanan di lapangan.

Sejumlah laporan menyebutkan kapal-kapal masih menghadapi risiko, mulai dari ancaman ranjau hingga premi asuransi yang tinggi. Iran bahkan menetapkan jalur pelayaran khusus untuk menghindari area berbahaya, dengan koordinasi militer yang ketat.

Di sisi lain, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Serangan terhadap fasilitas energi di kawasan masih terjadi, termasuk infrastruktur pipa di Arab Saudi yang sebelumnya menjadi alternatif distribusi di luar Selat Hormuz. Negara lain seperti Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan serangan drone dan rudal.

Situasi ini membuat tambahan pasokan minyak ke pasar global dalam jangka pendek masih terbatas. Dalam dua minggu ke depan, aliran energi dari kawasan tersebut diperkirakan belum akan kembali normal, seiring kendala keamanan dan operasional yang belum terselesaikan.

Pasar kini berada dalam fase tarik-menarik antara ekspektasi pembukaan pasokan dan realitas di lapangan yang masih penuh gangguan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Jelang Tahun Baru, Harga Minyak Merosot


Most Popular
Features