MARKET DATA

Rupiah Dibuka Stabil, Dolar AS Bertahan di Rp16.990

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 April 2026 09:03
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (6/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda membuka perdagangan di posisi Rp16.990/US$, atau relatif tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan terakhir, Kamis (2/4/2026). Rupiah ditutup melemah 0,09% pada perdagangan tersebut.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat 0,22% ke level 100,248 pada pukul 09.00 WIB. Kenaikan DXY menunjukkan dolar AS masih diburu investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pergerakan rupiah pada pagi ini masih dibayangi sentimen eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perang Iran yang terus memanas.

Dolar AS bergerak di zona hijau pada pagi ini, ketika pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru konflik Iran. Fokus utama investor tertuju pada tenggat terbaru dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Dalam unggahan media sosial pada Minggu Paskah kemarin, Trump mengancam akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat apabila jalur strategis tersebut tidak juga dibuka kembali. Pernyataan itu dinilai pasar mempertegas risiko bahwa gangguan geopolitik bisa berlangsung lebih lama.

Ultimatum terbaru Trump menjadi sentimen negatif bagi pasar, bukan semata karena perang dipastikan pecah dalam waktu dekat, tetapi karena setiap ancaman baru membuat risiko gangguan menjadi terlihat lebih panjang, lebih dalam, dan lebih berat bagi perekonomian global.

Kondisi ini membuat investor kini memandang konflik ini sebagai persoalan yang bisa menjalar dari lonjakan harga minyak ke inflasi, lalu ke arah suku bunga. Kondisi inilah yang membuat dolar AS masih menjadi aset safe haven paling utama saat ini.

Pada akhirnya, penguatan dolar AS di pasar global menandakan bahwa investor masih memburu aset berdenominasi dolar. Situasi ini membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Loyo Awal Tahun, Dolar AS Tembus Rp16.715/US$


Most Popular
Features