Donald Trump Mau Akhiri Perang, Harga Minyak Longsor ke US$105
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia berbalik arah di awal April, seiring pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang akan segera mengakhiri perang di Iran.
Setelah sempat menyentuh US$118,35 per barel pada Selasa, harga Brent kini turun tajam ke US$105,38 per barel pada Rabu (1/4/2026) pukul 09.30 WIB.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$102,62 per barel, sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan Selasa di US$101,38
Pergerakan ini datang setelah reli luar biasa sepanjang Maret, di mana kontrak Brent mencatat kenaikan bulanan hingga 64%. level tertinggi sejak data dimulai pada 1988.
Melansir dari Reuters, kenaikan tersebut dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global, terutama melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Meski sempat terkoreksi tajam pada perdagangan sebelumnya, tekanan terhadap pasokan masih terasa. Laporan menyebutkan aktivitas serangan maritim dan ancaman terhadap infrastruktur energi belum mereda. Di sisi lain, sinyal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mulai muncul, dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang membuka peluang penghentian konflik dalam dua hingga tiga pekan.
Namun, bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat, gangguan pasokan diperkirakan belum pulih cepat. Kerusakan infrastruktur dan belum dibukanya kembali Selat Hormuz menjadi faktor yang menahan distribusi minyak global. Jalur ini diketahui mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia.
Dari sisi produksi, survei Reuters menunjukkan output OPEC turun 7,3 juta barel per hari pada Maret dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini berkaitan dengan pembatasan ekspor akibat terganggunya jalur distribusi. Dampaknya, proyeksi harga minyak tahunan mengalami revisi signifikan. Konsensus terbaru memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai US$82,85 per barel pada 2026, naik sekitar 30% dibandingkan proyeksi sebelum konflik.
Tekanan tambahan juga datang dari Asia. China dilaporkan akan memperpanjang larangan ekspor bahan bakar hingga April, dengan pengecualian terbatas untuk beberapa negara. Kebijakan ini mengurangi pasokan regional dan memperketat pasar, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Di belahan lain, dinamika distribusi juga berubah. Rusia mulai mengalihkan pengiriman minyak ke negara-negara yang mengalami krisis energi seperti Kuba, sementara Nigeria meningkatkan alokasi minyak mentah ke kilang domestik Dangote. Langkah ini mengurangi volume ekspor global dan memperketat persaingan pembeli di pasar internasional.
CNBCÂ Indonesia
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]