Pendapatan MDKA Sepanjang 2025 Turun 15%, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Merdeka Copper Gold, Tbk (MDKA) mencatat pendapatan konsolidasi sepanjang tahun 2025 sebesar US$ 1,9 miliar atau turun 15% dibandingkan tahun 2024. Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan kontribusi seiring pergeseran sementara fokus perusahaan ke operasi NPI, produksi tembaga yang lebih rendah, dan kegiatan pemeliharaan pada fasilitas NPI.
Sedangkan Grup Merdeka mencatat EBITDA sebesar US$373 juta pada tahun 2025. Jumlah tersebut meningkat dari US$329 juta pada tahun 2024 didukung oleh kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) emas sebesar 32% Year-on-Year (YoY) dan peningkatan produksi bijih nikel sebesar 44% YoY.
"Sepanjang 2025, kami terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan skala operasi dan pengembangan proyek-proyek strategis," kata Presiden Direktur Albert Saputro dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, kontribusi dari portofolio bisnis yang terdiversifikasi terus menjadi fondasi utama kinerja perseroan. Sepanjang tahun 2025, Tambang Emas Tujuh Bukit menghasilkan 103.156 ounces emas.
Sementara, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan operasi tambang dan fasilitas pengolahan Tambang Emas Pani di 2025.
Memasuki 2026, Tambang Emas Pani memulai produksi emas perdana pada 14 Februari 2026 serta merealisasikan penjualan emas pertama kepada PT Aneka Tambang (Persero), Tbk (ANTM) pada 16 Maret 2026 menandai dimulainya fase produksi dan monetisasi yang akan mendukung peningkatan kinerja keuangan secara signifikan ke depan.
"Didukung oleh rencana produksi emas dari PT Merdeka Gold Resources, Tbk serta struktur biaya yang kompetitif, kontribusi segmen emas terhadap produksi dan arus kas Grup ke depan akan meningkat secara signifikan," ungkapnya.
Pada 2026, PT Merdeka Gold Resources, Tbk menargetkan produksi 100.000-115.000 ounces emas disamping produksi berkelanjutan dari Tambang Emas Tujuh Bukit sebesar 80.000-90.000 ounces.
Di segmen nikel, PT Merdeka Battery Materials, Tbk (MBMA), anak usaha MDKA lainnya, juga menunjukkan kinerja operasional yang solid, dengan proyek-proyek utama berjalan sesuai rencana.
Sepanjang 2025, produksi tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) meningkat kuat, dengan produksi saprolit mencapai sekitar 7 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit sekitar 14,7 juta wmt.
"Pengembangan fasilitas hilirisasi juga terus berjalan sesuai rencana. Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia, anak usaha MBMA, berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh," tuturnya.
Sementara pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas terpasang sebesar 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP terus berjalan sesuai jadwal dengan commissioning lini produksi pertama pada pertengahan 2026.
Sepanjang 2025, MBMA menjaga kinerja mmelalui peningkatan volume produksi, efisiensi operasional, serta disiplin biaya memperkuat posisi Perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai.
Pada tahun ini, MBMA berencana peningkatan produksi bijih saprolit menjadi 8-10 juta wmt sementara produksi bijih limonit ditargetkan di kisaran 20-25 juta wmt. MBMA memperkirakan efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan SCM hingga mencapai swasembada bijih saprolit 100% untuk ketiga pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Perseroan pada 2026.
Di sisi lain, kontribusi dari segmen tembaga juga tetap stabil, dengan Tambang Tembaga Wetar menghasilkan arus kas yang konsisten sepanjang 2025. Proyek Tembaga Tujuh Bukit juga mencatat kemajuan yang memperkuat visibilitas pengembangan jangka panjang sebagai salah satu proyek tembaga-emas berskala besar yang belum dikembangkan secara global.
"Tahun 2025 merupakan periode penting bagi Perseroan dalam memperkuat fondasi operasional serta menyelesaikan berbagai proyek strategis. Dengan diversifikasi portofolio, posisi likuiditas yang kuat, serta proyek strategis yang akan beroperasi di 2026, Merdeka berada pada posisi yang solid untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya," jelasnya.
Dimulainya produksi dari Tambang Emas Pani serta peningkatan skala bisnis nikel diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan produksi dan arus kas dalam jangka menengah.
(ayh/ayh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]