Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Tunggu Aba-Aba dari Timur Tengah
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali merangkak naik di tengah tarik-ulur sentimen geopolitik yang belum sepenuhnya reda.
Mengacu Refinitiv per Kamis, 26 Maret 2026 pukul 09.25 WIB, kontrak Brent (LCOc1) tercatat di US$103,31 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI/CLc1) berada di US$91,41 per barel.
Kenaikan ini menjadi upaya pemulihan setelah tekanan yang sempat menekan harga sehari sebelumnya, sekaligus menandakan pasar masih berada dalam fase "wait and see".
Jika ditarik beberapa hari ke belakang, pergerakan harga terlihat cukup volatil. Brent sempat menyentuh US$104,49 pada 24 Maret sebelum turun ke US$102,22 dan kini kembali naik. Sementara WTI bergerak dari US$92,35 ke US$90,32, lalu rebound ke US$91,41. Bahkan dalam rentang lebih panjang, harga sempat melonjak hingga US$112,19 (Brent) pada 20 Maret, sebelum terkoreksi tajam. Pola ini memperlihatkan bahwa arah harga masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, khususnya di kawasan Teluk.
Melansir dari Reuters, kenaikan harga minyak pada perdagangan awal Kamis dipicu oleh aksi beli setelah penurunan sehari sebelumnya, di tengah harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Investor mulai menimbang kemungkinan de-eskalasi konflik, terutama setelah Iran dikabarkan masih mengkaji proposal dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang selama ini mengganggu aliran energi global dari kawasan Teluk.
Meski respons awal Iran terhadap proposal tersebut disebut negatif, keputusan Teheran untuk belum memberikan penolakan resmi dinilai sebagai sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Dalam konteks pasar energi, sinyal sekecil apa pun terkait potensi perdamaian dapat langsung mempengaruhi ekspektasi pasokan, mengingat kawasan Teluk merupakan salah satu jalur vital distribusi minyak dunia.
Namun di sisi lain, tensi belum benar-benar reda. Pemerintah Amerika Serikat disebut akan meningkatkan tekanan terhadap Iran jika tidak menerima proposal tersebut. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa risiko eskalasi tetap membayangi, sehingga pasar belum sepenuhnya berani mengunci arah bullish yang lebih kuat.
Kondisi ini membuat harga minyak bergerak dalam rentang yang relatif lebar dalam beberapa hari terakhir.
CNBCÂ IndonesiaÂ
(emb/emb) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]