MARKET DATA

Bursa Asia Lanjut Melemah Imbas Konflik AS-Iran, Harga Minyak Lompat

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 March 2026 08:50
A currency trader talks near the screens showing the Korea Composite Stock Price Index (KOSPI), right, and the foreign exchange rates at the foreign exchange dealing room in Seoul, South Korea, Wednesday, May 27, 2020. Major Asian stock markets have declined as US-Chinese tension over Hong Kong competes with optimism about recovery from the coronavirus pandemic. (AP Photo/Lee Jin-man)
Foto: Korea Composite Stock Price Index (KOSPI. (AP/Lee Jin-man)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Asia-Pasifik dibuka lebih rendah pada hari Selasa, karena konflik di Timur Tengah, khususnya yang terjadi di Iran, terus berlanjut untuk hari keempat.

Harga minyak melanjutkan kenaikan setelah Iran dilaporkan mengatakan telah menutup Selat Hormuz, dengan harga minyak mentah berjangka AS naik 0,15% menjadi $71,33, sementara Brent naik 7,14% menjadi $78,07 per barel.

Lebih dari 14 juta barel per hari rata-rata melewati Selat tersebut tahun lalu, yang mencakup hampir sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia melalui jalur laut, menurut data Kpler.

Indeks Kospi Korea Selatan turun hampir 2%, tetapi saham sektor pertahanan mencatatkan kenaikan besar, dengan Hanwha Aerospace naik 11% pada pembukaan.

Indeks S&P/ASX 200 Australia memulai hari dengan penurunan 0,57%, setelah menjadi salah satu dari sedikit pasar pada hari Senin yang mencatatkan kenaikan tipis.

Indeks Nikkei 225 Jepang memperpanjang kerugian dan turun 0,42%, sementara Topix turun 0,76%.

Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong berada di 26.109, lebih tinggi dari penutupan terakhir HSI di 26.059,85.

Semalam di AS, S&P 500 naik tipis 0,04% setelah pulih di akhir sesi. Nasdaq Composite naik 0,36%, pulih dari kerugian 1,6%.

Dow Jones Industrial Average turun 73,14 poin, atau 0,15%, menetap di 48.904,78. Pada titik terendahnya, Dow turun hampir 600 poin.

(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Dibuka Lemah, Tekanan Pasar Belum Berakhir


Most Popular
Features