IHSG Pangkas Koreksi, Sesi 1 Ditutup Turun 1,6%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memangkas koreksi pada akhir sesi 1 perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026).
IHSGÂ ditutup turun 131,77 poin atau 1,6% ke level 8.103,72. Sebanyak 113 saham naik, 682 turun, dan 163 tidak bergerak.Â
Nilai transaksi mencapai Rp 16,57 triliun, melibatkan 31,54 miliar saham, dalam 2,16 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 14.520 triliun.Â
Sebagaimana diketahui pada awal perdagangan hari ini, IHSG sempat anjlok lebih dari 2%, merespons situasi di Timur Tengah yang memanas setelah AS dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026).
IHSGÂ berhasil melawan tekanan dengan memangkas koreksi menjadi -1,28% sebelum akhirnya koreksi kembali melebar ke lebih dari 1,5%.Â
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona merah. Hanya energi yang tercatat naik, kontras dengan yang lain.Â
Sektor energi tercatat naik 1,1% seiring dengan apresiasi terhadap saham migas hingga batu bara. Medco Energi (MEDC) naik 5,8% ke level 1.825. Lalu Energi Mega Persada (ENRG) dan juga Golden Eagle Energy (SMMT) masing-masing naik 14,2% dan 13,33%.Â
ENRG juga tercatat sebagai saham yang menjadi penopang terbesar IHSG dengan bobot 6,29 indeks poin.Â
Sementara itu, saham-saham yang berkontribusi besar terhadap koreksi IHSG adalah emiten perbankan. Bank Mandiri (BMRI) berkontribusi -11,65 indeks poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -11 indeks poin, Bank Central Asia (BBCA) 7,11 indeks poin.Â
Kendati demikian, saham yang paling membebani IHSGÂ adalah Astra International (ASII) dengan bobot -12,29 indeks poin.Â
Adapun penyebab anjloknya IHSG hari ini adalah imbas dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang makin meningkat menyusul kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS tewas. Pernyataan tersebut memperburuk sentimen pasar global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Nyaris seluruh sektor perdagangan melemah, kecuali sektor energi yang tercatat mengalami kenaikan tipis, dengan sektor barang baku yang sebagian konstituennya berisikan emiten tambang emas mencatatkan pelemahan paling kecil hari ini. Sedangkan sektor konsumer non primer dan properti tertekan paling dalam.
Saham-saham tambang emas dan emiten minyak dan gas (migas) tercatat menjadi penolong IHSG untuk todak jatuh lebih dalam, sedangkan saham big caps dan emiten konglomerasi kompak menjadi beban pergerakan IHSG ke zona merah.
Tiga emiten perbankan terbesar RI - BBRI, BMRI dan BBCA - tercatat menjadi beban utama pelemahan IHSG dengan kontribusi pelemahan hingga 35 indeks poin. Saham milik taipan Prajogo Pangestu yang juga ikut menjadi pemberat utama IHSG adalah BREN, BRPT dan TPIA.
Memasuki pekan pertama Maret 2026, pelaku pasar akan menghadapi kombinasi sentimen geopolitik dan rilis data makroekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah pasar global.
Kondisi Timur Tengah akan memicu ketidakpastian global dan dikhawatirkan membuat investor asing kabur dari Emerging Markets, terutama Indonesia.
Bursa Asia-Pasifik juga tercatat ambruk pada perdagangan Senin, (2/3/2026). Harga minyak melonjak lebih dari 8% dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate dan Brent masing-masing diperdagangkan di level US$72,52 dan US$79,04 per barel. Sementara itu, kontrak emas naik 2,3% karena investor memburu aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok 1,64%. Meski demikian, saham perusahaan pertahanan seperti Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI Corporation justru menguat lebih dari 1%.
Kemudian STIÂ di Singapura turun 1,89% dan indeks Hang Seng koreksi 1,64%. Pasar saham Korea Selatan ditutup karena libur nasional.
Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik meminta agar para investor pasar modal dapat bersikap bijaksana dalam keputusan berinvestasi.
"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor," ujarnya kepada wartawan, Senin (2/3/2026).
"Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," jelasnya.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]