Tak Tenang Punya Uang Banyak, Konglomerat RI Pilih Jadi Mualat
Jakarta, CNBC Indonesia — Masagung, atau Tjio Wie Tay, dikenal sebagai salah satu konglomerat Indonesia keturunan Tionghoa yang sukses membangun kerajaan bisnis Toko Buku Gunung Agung. Namun, di balik kejayaan finansialnya, Masagung pernah mengalami kegelisahan batin yang mendalam hingga mengubah arah hidupnya secara drastis.
Krisis kesadaran itu terjadi pada era 1970-an, ketika Masagung berusia sekitar 50 tahun. Saat itu, Gunung Agung berada di puncak kejayaan sebagai sentra perdagangan buku terbesar di Indonesia. Perusahaannya tak hanya bergerak di penerbitan dan penjualan buku, tetapi juga merambah sektor pariwisata, perhotelan, hingga penukaran uang.
Kesuksesan tersebut mengantarkan Masagung ke jajaran miliarder. Meski demikian, ia enggan membeberkan secara rinci total kekayaannya. Penulis buku Apa dan Siapa? (2004) mencatat besarnya skala bisnis Masagung tercermin dari kewajiban pajak grup usahanya.
"Jumlah pajak yang harus dibayarnya secara grup mencapai Rp200 juta. Untuk bea cukai sebesar Rp2 miliar. Belum termasuk pajak pendapatan dari 2.000 lebih karyawannya," tulis buku tersebut, dikutip Minggu (8/2/2026).
Alih-alih merasa aman, limpahan harta justru menimbulkan rasa takut dalam diri Masagung. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (2009) menyebut kondisi itu membuat Masagung tidak nyaman. Ia khawatir kekayaan dan kejayaan justru menjadi "senjata makan tuan" yang menjerumuskannya pada kehidupan yang melenceng dari nilai moral dan spiritual.
Di tengah kegelisahan tersebut, Masagung bertemu dengan Tien Fuad Muntaco, sosok yang oleh Denys Lombard digambarkan sebagai pakar hipnotisme dan telepati, sekaligus figur spiritual. Pertemuan itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya.
"Usai pertemuan itu, dia jatuh di bawah pengaruh spiritual Ibu Tien dan memutuskan untuk memeluk agama Islam (sebelumnya dia memeluk agama Hindu)," tulis Denys Lombard.
Perubahan keyakinan itu diikuti transformasi gaya hidup. Akademisi Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent (2012) menyebut Masagung menjadi lebih religius dan aktif dalam penyebaran ajaran Islam. Ia tak hanya menjalankan ibadah secara personal, tetapi juga berperan sebagai tokoh pendukung dakwah.
Masagung kemudian mendirikan Yayasan Jalan Terang yang fokus membiayai pembangunan masjid, rumah sakit, serta museum Wali Songo. Selain itu, ia aktif dalam kegiatan dakwah di masjid-masjid Jakarta dan memanfaatkan lini bisnisnya untuk menerbitkan buku-buku bertema Islam.
Denys Lombard menilai perjalanan spiritual Masagung sebagai proses pendewasaan. "Setelah mengalami masa muda yang resah, tindakan Masagung untuk merangkul tradisi Jawa dan kegemarannya pada kebatinan merupakan langkah-langkah maju," tulis Lombard.
Upaya Masagung dalam menebarkan ajaran Islam dan kegiatan sosial-keagamaan tersebut terus ia jalani hingga akhir hayatnya. Pendiri Gunung Agung itu wafat pada 24 September 1990, meninggalkan jejak bukan hanya sebagai konglomerat buku, tetapi juga sebagai figur yang mengalami transformasi spiritual mendalam di puncak kekayaannya.
(tfa/mkh)[Gambas:Video CNBC]