MARKET DATA

BI Tahan Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp16.930/US$

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 January 2026 15:05
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (21/1/2026), seiring keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuannya.

Mengacu data Refinitiv, rupiah berhasil menguat 0,09% dan bertengger di level Rp16.930/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga perdagangan beruntun.

Adapun, sepanjang perdagangan rupiah bergerak volatil di rentang Rp16.920-Rp16.967/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB masih berada di zona merah, melemah tipis 0,02% di level 98,621.

Penguatan rupiah hari ini terjadi seiring hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang memutuskan menahan BI-Rate di level 4,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global serta tekanan inflasi 2026-2027.

"Sebagai bentuk upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global dan inflasi 2026-2027," tegas Perry seusai RDG BI, Rabu (21/1/2026).

Dengan keputusan ini, BI tercatat sudah empat kali beruntun mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% sejak September 2025. Meski demikian, Perry menyebut BI tetap berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi dengan mendorong percepatan transmisi suku bunga acuan, serta menilai ruang penurunan suku bunga ke depan masih terbuka.

Keputusan BI ini juga sejalan dengan konsensus CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi yang seluruhnya memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga. Sejumlah ekonom menilai, tekanan rupiah yang belum sepenuhnya mereda membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas, karena penurunan suku bunga berisiko mengurangi daya tarik imbal hasil aset rupiah dan meningkatkan peluang arus modal keluar.

Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai BI perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik untuk menopang stabilitas nilai tukar.

"BI kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga di 4,75% karena perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik untuk mendukung stabilitas nilai tukar, sekaligus memastikan transmisi pelonggaran yang sudah dilakukan sepanjang 2025 tetap berjalan," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pasar telah mengunci ekspektasi suku bunga tetap, mengingat tekanan rupiah masih kuat.

"Peluang terbesar Bank Indonesia masih menahan BI Rate di 4,75% karena tekanan nilai tukar rupiah belum mereda dan pasar juga sudah mengarah ke skenario suku bunga tetap," kata Josua.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah 0,06%, Dolar AS Naik ke Rp 16.700


Most Popular
Features