Jelang Akhir Pekan: Rupiah Ditutup Loyo, Dolar AS Naik ke Rp16.795
Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (9/1/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah terdepresiasi sebesar 0,06% dan ditutup di level Rp16.795/US$. Pelemahan hari ini sekaligus memperpanjang tren pelemahan rupiah menjadi enam hari perdagangan beruntun sejak awal 2026.
Di sepanjang perdagangan rupiah sempat bergerak melemah hingga menembus level Rp16.843/US$ sebelum akhirnya pelemahan berkurang hingga di level penutupan.
Sementara itu, hingga pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) kembali melanjutkan penguatan dengan naik 0,10% ke level 99,035. Level tersebut juga menjadi posisi terkuat DXY dalam satu bulan terakhir, atau sejak 10 Desember 2025.
Penguatan dolar AS di pasar global menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini.
Menguatnya DXY mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar terhadap aset berdenominasi dolar AS, sehingga meningkatkan permintaan dan menekan pergerakan mata uang lainnya, terutama mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.
Dolar AS menguat seiring pelaku pasar mencermati rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (nonfarm payrolls/NFP) terbaru, yang dinilai krusial dalam memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS.
Perhatian pasar juga tertuju pada data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan kenaikan tipis jumlah pengajuan tunjangan pengangguran, serta dinamika tingkat pengangguran yang berpotensi menjadi penentu arah kebijakan suku bunga ke depan.
Di sisi lain, pelaku pasar global juga mewaspadai potensi tambahan sentimen dari putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait kewenangan Presiden AS dalam menerapkan tarif perdagangan berbasis status darurat. Putusan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan perdagangan AS dan menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.
Ekspektasi pasar saat ini masih menunjukkan peluang besar bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan FOMC akhir Januari mendatang. Kondisi ini turut menopang penguatan dolar AS dan memberikan tekanan lanjutan terhadap pergerakan rupiah.
(evw/evw)[Gambas:Video CNBC]