MARKET DATA

Sepanjang 2025 IHSG All Time High 24 Kali, Saham LQ45 Cuma Naik 2,41%

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
09 January 2026 10:20
Ketua Eksekutif Pengawas Pasar Modal: Inarno Djajadi. (Tangkapan Layar Youtube)
Foto: Ketua Eksekutif Pengawas Pasar Modal: Inarno Djajadi. (Tangkapan Layar Youtube)

Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan kinerja positif pada industri pasar modal Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyebut sepanjang 2025 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai rekor tertinggi hingga 24 kali.

"Sepanjang 2025, IHSG membukukan all time high sebanyak 24 kali," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (9/1/2026).

Menurutnya, perekonomian RI yang terjaga dan sentimen positif global membawa angin segar bagi pasar modal Tanah Air hingga pada akhir tahun IHSG berhasil ditutup di level 8.646,94 atau menguat 1,62% secara month to month atau 22,13% secara tahunan.

"Adapun level tertinggi IHSG 2025 tercatat di 8.710,70 pada 8 Desember 2025 dengan nilai kapitaliasi pasar tertinggi Rp 16.000 triliun di tanggal yang sama," ungkapnya.

Akan tetapi indeks LQ45 dan IDX80 masing-masing tumbuh di bawah kinerja IHSG, yakni 2,41% dan 10,07%.

Sementara rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada Desember 2025 juga menyentuh capaian tertingginya yaitu sebesar Rp 27,19 triliun. "Masih konsisten di atas Rp 20 triliun sejak 20 Agustus 2025," imbuhnya.

Kenaikan likuditas transaksi di pasar saham domestik pada semester II tahun 2025 didorong oleh investor ritel domestik yang mana ritel mendominasi dengan peningkatan jadi 50% dari sebelumnya 38%.

Sedangkan RNTH sepanjang tahun 2025 sebesar Rp 18,07 triliun atau meningkat signifikan dari Rp 12,85 triliun di 2024.

Inarno menambahkan, keyakinan dan persepsi positif pasar modal Indonesia juga tecermin dari arus modal asing yang mengalir dengan beli bersig Rp 12,24 triliun secara bulanan.

"Namun akumuluasi di 2025 investor asing masih net sell, Rp 17,74 triliun," pungkasnya.

(rob/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article OJK Kaji Regulasi Universal Banking, Perluas Bisnis ke Pasar Modal


Most Popular
Features