Trump Kasih Kode Keras ke Perusahaan Minyak AS Sebelum Tangkap Maduro
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump menyampaikan pesan yang samar namun menarik bagi beberapa eksekutif minyak Amerika, sekitar sebulan sebelum AS menangkap penguasa Venezuela, Nicolás Maduro. Melansir The Wall Street Journal, Trump mengisyaratkan para raksasa minyak untuk bersiap, karena perubahan besar akan datang ke Venezuela.
Menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut, Trump tidak memberikan detail spesifik tentang serangan di Caracas yang terjadi pada Sabtu pagi. Ia juga tidak meminta nasehat mereka tentang rencana AS merevitalisasi ladang minyak Venezuela yang rusak dengan investasi miliaran dolar.
Namun isyarat Trump bulan lalu mengungkapkan betapa pentingnya minyak dalam keputusannya yang berani dan penuh risiko untuk masuk ke Venezuela, serta hubungan dekatnya dengan industri tersebut. Rencana Trump sebagian besar akan bergantung pada kesediaan perusahaan minyak AS untuk berinvestasi di Venezuela, terutama Chevron, satu-satunya perusahaan besar AS yang masih beroperasi di sana.
"Kita akan mengambil kekayaan yang sangat besar dari dalam tanah," kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada hari Sabtu, dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (6/1/2026).
"Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini."
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan dalam sebuah email pada hari Senin bahwa Trump berharap dapat bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan minyak Amerika dalam investasi dan peluang baru di Venezuela.
Sementara itu, seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan bahwa Menteri Energi AS, Chris Wright dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio memimpin upaya tersebut atas nama Trump, dan korespondensi dengan perusahaan minyak telah dimulai.
Baru-baru ini, pada akhir Desember, pemerintahan Trump menawarkan Maduro kesempatan untuk meninggalkan jabatannya dan hidup di pengasingan. Maduro, yang menolak tawaran tersebut, kemudian muncul di pengadilan AS pada hari Senin.
Para investor tampaknya menyukai gagasan bahwa Venezuela dapat menjadi wilayah baru bagi perusahaan minyak AS, atau wilayah yang lebih besar bagi Chevron. Reaksi itu terlihat dari saham Chevron yang naik sekitar 5%, saham Exxon Mobil naik sekitar 2%, dan ConocoPhillips naik hampir 3% pada hari Senin.
Untuk saat ini, Chevron tidak berencana untuk meningkatkan pengeluaran atau meningkatkan produksi secara signifikan, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut. Raksasa minyak Houston itu berhati-hati untuk menginvestasikan modal baru di sana sampai negara tersebut lebih stabil dan pertanyaan seputar perjanjian komersial terselesaikan. Para sumber mengatakan mereka juga tidak pernah menganjurkan perubahan rezim di Venezuela kepada pemerintah.
"Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami," kata seorang juru bicara Chevron.
"Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan."
Ia mengatakan Chevron tidak berkomentar tentang masalah komersial atau berspekulasi tentang investasi masa depan.
Pemerintah Venezuela memperkirakan bahwa negara tersebut memiliki cadangan minyak sekitar 300 miliar barel, yang, jika benar, akan menjadikannya cadangan minyak terbesar di planet ini. Produksi negara saat ini mencapai sekitar 900.000 barel per hari, kurang dari 1% dari konsumsi minyak harian dunia.
Meningkatkan produksi tersebut akan memperbaiki kondisi ekonomi di negara itu, yang diharapkan pemerintahan Trump akan menghentikan arus migran dari Venezuela ke AS dan menjaga harga energi tetap rendah bagi konsumen. Tetapi perusahaan minyak AS terbesar yang paling siap untuk menginvestasikan uang di Venezuela belum berkomitmen pada usaha tersebut hingga saat ini.
Dua perusahaan minyak AS lainnya dengan skala dan keahlian dalam minyak berat untuk berinvestasi di negara Amerika Latin tersebut, yakni ConocoPhillips dan Exxon juga belum memberikan sinyal rencana untuk kembali memasuki negara yang menasionalisasi aset mereka di sana pada pertengahan tahun 2000-an. ConocoPhillips mengatakan masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang investasi baru. Sementara Exxon tidak menanggapi permintaan komentar.
Kurangnya keinginan perusahaan minyak besar untuk segera melakukan investasi baru di Venezuela dapat menjadi pukulan signifikan bagi upaya pemerintahan Trump untuk mereformasi pemerintahan negara tersebut. Hal itu diutarakan oleh Dan Pickering, kepala investasi di Pickering Energy Partners.
"Jika Anda masuk ke Venezuela, Anda harus memiliki persyaratan yang menurut Anda akan melindungi Anda dari warga Venezuela dan, terus terang, melindungi Anda dari pemerintahan yang berbeda di AS," katanya mengomentari perusahaan-perusahaan tersebut.
Chevron, yang telah berada di Venezuela selama lebih dari seabad, adalah yang paling siap untuk merevitalisasi ladang minyak Venezuela. Perusahaan tersebut tetap bertahan di negara itu bahkan ketika perusahaan minyak Barat lainnya keluar setelah pemerintah Venezuela menasionalisasi industri tersebut pada tahun 2007, dan perusahaan tersebut memiliki hubungan berkelanjutan dengan pejabat pemerintah saat ini.
Namun, untuk melangkah maju, mereka perlu cukup yakin bahwa karyawan mereka dapat beroperasi dengan aman di negara tersebut, dan bahwa mereka dapat menarik kembali investasi mereka.
Di antara masalah yang harus dipertimbangkan Chevron dan raksasa minyak lainnya perlu mengkaji siapa yang bertanggung jawab di Venezuela, kebijakan apa yang akan mengatur kontrak, apakah supremasi hukum akan melindungi kesucian kontrak tersebut, kemampuan untuk mengekspor minyak mentah, dan biaya perbaikan infrastruktur. Bahkan jika perusahaan minyak memutuskan untuk berinvestasi, dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar produksi minyak Venezuela meningkat secara dramatis.
Meskipun berada dalam posisi yang lebih baik untuk meningkatkan investasi di Venezuela daripada perusahaan AS lainnya, Chevron lebih memilih untuk tetap berproduksi pada tingkat saat ini untuk sementara waktu, sambil fokus pada memastikan keselamatan karyawan yang sudah ada di sana, demikian diungkapkan kata orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Menurut sumber-sumber tersebut, investasi modal besar apa pun yang dilakukan Chevron di negara itu harus bersaing, dalam hal potensi pengembalian investasi, dengan peluang lain dalam portofolio globalnya.
Sementara itu, pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan pembicaraan dengan beberapa perusahaan minyak.
"Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia untuk melakukan investasi besar di Venezuela yang akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka, yang dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah," kata Taylor Rogers, juru bicara Gedung Putih.
"Perusahaan minyak Amerika akan melakukan pekerjaan yang luar biasa bagi rakyat Venezuela dan akan mewakili Amerika Serikat dengan baik."
(fsd/fsd)[Gambas:Video CNBC]