Rusia & Ukraina Kembali Panas, Harga Minyak Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia mengawali perdagangan tahun 2026 dengan nada positif. Melansir Refinitiv pada Jumat, 2 Januari 2026 pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent (LCOc1) berada di US$61,01 per barel, sementara WTI (CLc1) di US$57,56 per barel.
Penguatan tipis dibandingkan penutupan akhir 2025, sekaligus menandai fase konsolidasi setelah pasar minyak melewati salah satu tahun terberat dalam satu dekade terakhir. Secara harian, Brent naik dari US$60,85 pada 31 Desember 2025 menjadi US$61,01, sementara WTI menguat dari US$57,42 menjadi US$57,56.
Pemicu penguatan awal tahun ini datang dari sisi geopolitik. Menurut Reuters, eskalasi konflik Rusia-Ukraina kembali menargetkan infrastruktur energi, setelah Ukraina melancarkan serangan drone ke fasilitas energi Rusia.
Serangan ini dipandang pasar sebagai risiko langsung terhadap arus pasokan minyak dan produk energi dari kawasan Eurasia. Di saat yang sama, Washington juga meningkatkan tekanan terhadap Venezuela.
Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang terlibat dalam ekspor minyak Venezuela. Langkah ini membatasi kemampuan perusahaan minyak nasional PDVSA untuk menyalurkan pasokan ke pasar global, sekaligus memperketat suplai minyak berat yang selama ini menjadi alternatif penting bagi kilang AS dan Asia.
Kombinasi faktor gangguan potensi pasokan Rusia dan pembatasan ekspor Venezuela memberi lapisan "risk premium" baru pada harga minyak. Itulah mengapa meskipun permintaan global belum menunjukkan lonjakan, harga minyak tidak lagi jatuh ke bawah US$60 untuk Brent di awal 2026.
Namun latar belakang jangka menengahnya tetap berat. Sepanjang 2025, Brent dan WTI anjlok hampir 20%, menjadi kinerja tahunan terburuk sejak pandemi 2020. Pasar dibebani oleh kelebihan pasokan global dan produksi Amerika Serikat yang terus mencetak rekor, sementara pertumbuhan permintaan energi melambat akibat tekanan tarif dan perlambatan ekonomi dunia.
Menurut data EIA, produksi minyak AS sempat menyentuh 13,87 juta barel per hari pada Oktober 2025, level tertinggi sepanjang sejarah. Di saat yang sama, stok bensin dan distilat masih tinggi karena aktivitas kilang tetap kuat, meski stok minyak mentah sempat turun. Struktur ini membuat pasar minyak sulit keluar dari tekanan struktural pasokan berlebih.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
(emb/emb)[Gambas:Video CNBC]