45% Pelamar Kerja Pernah Jadi Korban Ghosting HRD Usai Wawancara

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
06 November 2026 16:45
Bukti Cari Kerja Makin Susah, Anak Muda China dan RI Jadi Sorotan
Foto: Ilustrasi/ Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah menjalani wawancara kerja, bahkan sampai tahap akhir, tetapi setelah ini tidak mendapat kabar dari perusahaan? Fenomena ini ternyata dialami banyak pencari kerja dan dikenal dengan istilah job ghosting.

Laporan terbaru platform rekrutmen Greenhouse menemukan bahwa 45% pencari kerja yang telah mencapai tahap wawancara mengaku tidak lagi mendapat respons dari perusahaan setelah proses tersebut. Temuan itu berdasarkan survei terhadap 1.200 pencari kerja di Amerika Serikat (AS) yang dilakukan pada September 2026.

Fenomena ini bahkan mendorong Gary Meyer (42), seorang konsultan pemasaran berbasis kecerdasan buatan (AI) asal Toronto, Kanada, membuat situs bernama Did They Ghost You pada Juni 2026.

Situs tersebut menjadi wadah bagi para pencari kerja untuk melaporkan perusahaan yang tiba-tiba memutus komunikasi setelah menjalani proses rekrutmen. Hingga laporan tersebut diterbitkan, situs itu telah menerima 2.888 laporan anonim dan menyusun peringkat perusahaan yang paling sering dituding melakukan ghosting, termasuk sejumlah perusahaan besar yang masuk dalam indeks saham S&P 500.

Meyer awalnya hanya ingin membuat proyek kecil setelah mendengar keluhan teman-temannya yang tidak pernah mendapat kabar setelah menjalani wawancara kerja. Namun, ketika membagikan situs tersebut melalui LinkedIn, respons publik ternyata jauh melampaui perkiraannya.

Dalam beberapa hari pertama, situs tersebut diklaim telah dikunjungi lebih dari dua juta orang. Pada puncak popularitasnya, Meyer bahkan menerima lima hingga enam laporan baru setiap menit.

"Jelas, ini menyentuh masalah yang cukup sensitif," ujar Meyer, dikutip dari CNBC Make It, Jumat (6/11/2026).

Meyer menjelaskan, situsnya tidak ditujukan bagi pelamar yang sekadar mengirimkan lamaran pekerjaan tetapi tidak memperoleh balasan. Menurutnya, tidak mendapat respons pada tahap awal melamar pekerjaan sudah menjadi hal yang umum terjadi di pasar tenaga kerja saat ini.

Sebaliknya, laporan yang diterima situsnya berasal dari kandidat yang telah melewati beberapa tahap seleksi, termasuk wawancara berulang kali, tetapi kemudian ditinggalkan tanpa kepastian.

"Ini adalah orang-orang yang telah melalui beberapa putaran wawancara, bertemu banyak orang, bahkan terbang ke berbagai negara bagian atau kota untuk wawancara. Namun, tepat di tahap akhir, tidak ada apa-apa, tidak ada respons sama sekali," katanya.

Salah satu pelamar mengaku sempat diberi tahu oleh direktur sumber daya manusia (SDM) bahwa dirinya merupakan kandidat yang paling diunggulkan setelah wawancara terakhir. Namun, setelah itu perusahaan tidak pernah menghubunginya lagi.

Pelamar lainnya mengaku tidak mendapat kabar dari perusahaan, tetapi justru menemukan lowongan pekerjaan yang sama kembali diiklankan sepekan kemudian.

Meyer mengatakan, pengalaman tersebut sering membuat pencari kerja menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak cukup layak untuk mendapatkan tanggapan dari perusahaan. Menurutnya, salah satu alasan fenomena ini begitu menyakitkan adalah munculnya anggapan bahwa kandidat telah melakukan kesalahan besar hingga perusahaan merasa tidak perlu memberikan balasan, bahkan sekadar melalui email.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Sulitnya Cari Kerja, Sudah Kirim 5.000 Lamaran Masih Menganggur


Most Popular
Features